Data di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memperlihatkan banyaknya berita pers Malaysia yang sangat negatif bahkan bohong soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ketika diprotes atau disomasi oleh KBRI, mereka tidak merespon sedikitpun.
"Alhamdulillah mereka (pers Malaysia) tidak pernah memberi respon," kata kuasa usaha/Diplomat Senior KBRI Tatang B Razak dengan nada sinis khas Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pers Malaysia tidak pernah memberitakan hal-hal yang negatif tentang suasana negerinya sendiri. Pemerintah mengontrol dengan ketat pemberitaan. Pemerintah memberikan jutlak soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Seorang editor dari Malaysia Nanban, harian ternama untuk komunitas India di Malaysia menceritakan, salah satu larangan pemerintah adalah pers tidak boleh memberitakan penyerangan tempat ibadah agama Hindu oleh kelompok muslim di negeri itu. Bila melanggar jutlak maka pimpinan media massa kena tegur bahkan dipanggil langsung oleh pemerintah.
"Kami tidak merasa ini sebuah kekangan. Bagi kami tanggung jawab adalah nomor satu, baru kemudian kebebasan," kata Perumal G, editor Malaysia Nanban, kepada detikcom saat pertemuan senior editor antara kedua negara.
KBRI mengumpulkan sejumlah headline pers Malaysia yang sangat provokatif. Headline tersebut antara lain berjudul "25 Ribu Pekerja RI Bawa Penyakit ke Malaysia", "Indon Cemarkan KL", "Mafia Indon Mengganas" dan "Bandung Puncak Maksiat".
Pers Malaysia juga pernah menurunkan berita bohong dengan judul "50 Indon Serang Warung Burger". Setelah KBRI mengecek berita itu, ternyata pelakunya bukan TKI, tapi warga Malaysia sendiri.
"Semua hal negatif dikaitkan Indonesia sehingga warga Malaysia membenci Indonesia. Bagaimana Malaysia tidak arogan dengan bukti seperti itu?" ketus Tatang.
(iy/ken)











































