Dan lagi-lagi bukan hal tabu, biaya itu disetorkan ke partai yang mengusung calon tersebut. Seringkali angka biaya itu menembus 'M' alias miliaran rupiah.
Seperti pengakuan anggota DPR dari PDIP Sumaryoto. Untuk ikut terjun di pilkada Jawa Tengah, Sumaryoto mengaku menyetor '3 M' ke partainya. Namun tunggu dulu, 'M' yang ini bukan berarti miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu disampaikan Sumaryoto di DPP PDIP, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (14/2/2008).
Komitmen itu, kata dia adalah menang pilgub Jateng, menang pemilu legislatif dan menang pemilu presiden. Komitmen 3 M itu, kata Sumaryoto hanya dapat dilakukan oleh kader yang memiliki loyalitas tinggi terhadap partai.
"3 M ini memang berat. Karena tuntutan partai harus menang. Karena itu yang bisa 3 M ini hanya kader. Sebagai kader sikap politik saya terhadap 3 M ini jelas," cetusnya.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDIP Tjahjo Kumolo tidak memungkiri keharusan 3 M bagi setiap kandidat yang akan maju sebagai cagub ataupun wagub dalam Pilkada Jateng mendatang.
"Tidak ada persyaratan uang. Tapi kalau ada target politik, ya wajar dong. Karena itu yang kita pilih adalah orang yang konsisten dengan sikap politik. Menjadi calon dari PDIP, tentu wajar pemilu akan datang bela partai," pungkas Tjahjo.
Selain Sumaryoto, sejumlah kandidat lain juga mendaftar sebagai balongub dan wagub Jateng ke PDIP. Mereka adalah incumbent gubernur Jateng Ali Mufiz, mantan Pangkostrad Mayjen (purn) Bibit Waluyo, pengusaha Imam Suroso, Muji Utomo, mantan Kapolda Jateng Brigjen Pol Chaerul Rasyid, mantan rektor Undip Eko Budihardjo, dan Bupati Kebumen Rustriningsih.
(rmd/ken)











































