Singapura Ikut Tampung Perdagangan Harimau Sumatera

Singapura Ikut Tampung Perdagangan Harimau Sumatera

- detikNews
Kamis, 14 Feb 2008 17:14 WIB
Pekanbaru - Perdagangan bagian tubuh harimau sumatera tidak hanya diminati di dalam negeri. Perdagangan barang terlarang ini juga melibatkan mafia internasional. Salah satunya ke Singapura.

Hal itu ditegaskan, Julia Ng staf Traffic Asia dalam surat yang diterima detikcom, Kamis (13/2/2008). Dari hasil survey di pelabuhan laut pesisir Sumatera, harimau atau bagian tuhuhnya diekspor ke negara tetanggan sendiri seperti Malaysia dan  Singapura.

"Investigasi mengindikasikan, selanjutnya Singapura dicurigai menerima bagian-bagian tubuh Harimau yang berasal dari Sumatera ke Korea, Cina, Taiwan dan  Malaysia," terang Julia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada investigasi tahun 2004 silam, diketahui tulang Harimau Sumatera di Riau kemudian diangkut ke Singapura dengan menggunakan perahu. Pada tahun 2006, pelabuhan laut yang  disurvei adalah Belawan di Provinsi Sumatera Utara, Dumai, Tembilahan,  Pekanbaru dan Buton di Provinsi Riau. "Batam serta Tanjung Balai Karimun Provinsi Kepulauan Riau juga sebagai tempat pintu ekspor organ tubuh harimau sumatera ke Singapura," kata Julia.

Organ tubuh harimau yang diekpsor ke luar negeri itu  tidak lain untuk bahan obat-obatan tradisional dan khasiat dari bagian-bagian tubuh Harimau. Bagian tubuh Harimau, khususnya tulang dan penis, telah sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. "Tulang digunakan untuk mengobati rematik, sementara penis digunakan untuk bahan rendaman dalam anggur dan minuman keras," kata Julia.

Karena Traffic mengingatkan kepada pemerintah Indonesia, bahwa sudah sangat mendesak,adanya kerjasama antar-lembaga penegak hukum yang lebih baik untuk memberantas perdagangan tubuh harimau. Misalnya saja, Karantina dan Bea Cukai di pelabuhan laut dan Polisi untuk  menyergap tempat-tempat penjualan.

"Kita mendesak pemerintah harus secepatnya meninjau ulang terhadap perdagangan harimau di Sumatera, Indonesia ini. Kalau tidak, maka perdagangan harimau akan tetap berlangsung,” kata Julia.

Sedangkan Osmantri dari aktivis WWF Riau juga tidak menampik Singapura sebagai penampung hasil perburuan liar yang melibatkan mafia internasional. Organ tubuh harimau yang laris manis ditampung di Singapura ini lebih pada tulang-tulang harimau.

Tapi yang anehnya, setelah tulang itu diolah menjadi obat tradisional ala Cina, justru obat itu masuk lagi ke Indonesia. Harga obat ramuan dari tulang harimau inipun mahal harganya.

"Indonesia yang punya harimau, hak paten obat ada di negeri tetangga. Dan parahnya, obat tradisonal itu justru bangsa kita sendiri yang mengkomsumsinya," kata Osmantri. (cha/djo)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads