7 Harimau Sumatera Tewas Akibat Perburuan Liar Setiap Tahun

7 Harimau Sumatera Tewas Akibat Perburuan Liar Setiap Tahun

- detikNews
Kamis, 14 Feb 2008 17:02 WIB
Pekanbaru - Laris manisnya organ tubuh harimau diduga sebagai pemicu utama perburuan liar. Setidaknya, 7 ekor harimau tewas dibantai setiap tahunnya di Riau.

"Perburuan liar satwa liar seperti, badak, harimau, beruang masih terus terjadi di seluruh kawasan hutan di Sumatera. Dan perkiraan kita, saban tahun, kita menemukan 7 ekor harimau tewas dengan berbagai versi,” kata terang Oesmatri alias Abeng Koordinator Monitoring Harimau Sumatera WWF Riau  dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (13/2/2008) di Pekanbaru.

Menurutnya, sebaran harimau Sumatra khusunya di Riau hampir didapati seluruh kawasan hutan. Sebarannya antara lain, di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT)  Taman Nasioanal Tesso Nilo. Selanjutnya, di hutan marga satwa  Rimbang Baling, Bukit Batabuh. Ini belum lagi di kawasan hutan lindung termasuk hutan konservasi harimau Sumatera di Senepis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita memang belum melakukan penghitungan secara menyeluruh. Tapi paling tidak, monitoring di TNBT dan Taman Nasional Tesso Nilo paling tidak di dua kawasan itu saja saat ini ada 40an ekor harimau sumatera yang masih tersisah,” terang Abeng.

Tewas harimau sumatera di Riau selama ini banyak penyebabnya. Mulai dari konflikanatar manusia dengan harimau, sampai perburuan liar. Bagi penduduk, biasanya berdalih membunuh harimau karena ternak mereka banyak yang dimangsa.

"Ini juga problem baru. Alasanya konflik menjadikan harimau bulan-bulanan penduduk. Inibelum lagi memang sengaja untuk diburu. Jadi harimau sumatera ini benar-benar terancam punah," terang Abeng.

Kondisi kawasan hutan di Riau saat ini, dengan lajunya pembukaan lahan dengan sendiri, hutan sudah  dikepung rumah penduduk. Ini belum lagi adanya unsure illegal logging di tengah hutan. Kondisi ini membuat habitat hariamu kian menyempit.

"Kalau sudah begini, maka dengan sendirinya, harimau akan keluar dari habitatnya. Kalua sudha keluar, maka konflik yang terjadi. Lagi-lagi harimau dianggap hama bagi masyarakat," kata Abeng. (cha/djo)


Berita Terkait