"Asal sudah haid, perempuan usia berapa pun bisa mengonsumsi pil KB," kata dr Frizar Irmansyah, ahli kandungan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Hal ini disampaikan dia dalam diskusi bertajuk "Kontrasepsi oral vs hiperandrogen pada wanita" di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (14/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Frizar menuturkan, selama ini pil KB sering disalahartikan. Menurut dia, pil KB merupakan obat paling aman untuk mengatasi problem wanita, salah satunya haid. Bahkan masalah jerawat yang sering timbul di wajah juga dapat diatasi dengan pil KB.
"Dulu malah pil KB itu adalah obat jerawat," tutur dia.
Berubah persepsi, lanjut Frizar, karena kandungan dalam pil KB membuat bagian sensitif wanita menjadi kering. Padahal maksudnya untuk menghambat pengeluaran darah kotor dalam tubuh saat haid, dan hal itu tidak membahayakan.
Konsumsi pil KB untuk wanita yang belum menikah haruslah yang mengandung hormon estrogen progesteron. Menurutnya kandungan tersebut aman dikonsumsi.
Pil KB harus dikonsumsi setiap hari secara teratur dan pada jam yang sama. Jika tidak, kesuburan wanita akan datang. "Jadi gampang hamil," imbuh dia.
Frizar menganjurkan penggunaan pil KB tidak dibarengi dengan obat antibiotik seperti amoxilin, obat penenang, obat epilepsi dan sebagainya. Konsumsi yang dilakukan secara bersamaan itu akan mengurangi fungsi pil. Dan dapat menimbulkan spotting atau bercak merah.
"Jadi harus berselang beberapa jam," katanya.
Pil KB Pria
Selain pil KB yang kita kenal hanya untuk wanita, Frizar menjelaskan, saat ini dunia kedokteran sedang melakukan penelitian menemukan pil KB untuk pria. Namun, penelitian tersebut mengalami kendala karena terdapat perbedaan antara pria dengan wanita dalam hal memproduksi sel telur.
"Kalau wanita kan ada masa subur yang hanya satu bulan sekali. Kalau pria setiap hari, jadi sulit," ujar pria lulusan Universitas Indonesia ini.
Dunia kedokteran menemukan tanaman gandarusa yang ternyata berhasil mengurangi produksi sel telur pada hewan. Setelah dilakukan uji coba pada manusia tidak membawa hasil. Menurutnya, perlu suatu hormon yang kuat untuk dapat menghambat produksi sel telur pada pria.
"Tapi akan berdampak, misalnya mengurangi gairah," tandasnya.
(ptr/sss)











































