Sebuah Pengakuan di Ujung Setrum

Pembunuhan Mahasiswi UI (2)

Sebuah Pengakuan di Ujung Setrum

- detikNews
Kamis, 14 Feb 2008 11:02 WIB
Jakarta - Keluarga Anita bingung dan resah karena sampai tengah malam anaknya, Anita, belum juga pulang. Telepon genggamnya pun tidak tersambung. Kondisi ini bagi keluarga sangat janggal. Sebab Anita tidak pernah seperti itu. Nurzaroni, ibu Anita, jadi penasaran dan menghubungi Adiguna, pacar Anita. Tapi sang kekasih juga tak tahu keberadaan Anita.

Dua hari berselang, orang tua Anita membaca berita di sebuah surat kabar tentang penemuan sesosok mayat perempuan muda. Diberitakan, di daerah Kampung Sumur Batu, Cimanggis, Depok, Amien, seorang tukang ojek menemukan mayat perempuan di sebuah selokan.

Saat ditemukan mayat perempuan itu mengenakan baju biru dan celana jeans. Rambutnya sebahu dan bertubuh sedang. Pengojek itu kemudian melaporkan penemuannya ke Polsek Cimanggis. Selanjutnya Mayat itu dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk diotopsi.

Berita itu disimak serius oleh orangtua Anita. Sebab ciri-ciri yang disebutkan mirip dengan anaknya, Keluarga pengusaha daging itu lantas mencari tahu ke RSCM. Benar saja, ketika mayat yang terbujur kaku di kamar jenajah dilihat, Nurzaroni dan Rachmat langsuk shock. Ternyata mayat itu adalah anaknya.

"Kami sangat terpukul. Kenapa ada yang tega membunuh anak saya," isak Nurzaroni saat ditemui detikcom. Setelah dilakukan otopsi, jasad Anita langsung dibawa pulang, dan dimakamkan di Pandeglang, Banten, 30 Januari.

Kematian Anita awalnya sempat menjadi misteri bagi keluarga atau polisi. Sebab para pelaku, Yohanes Martinus alias Dado, Mulyana alias Acong, dan Mulyadi alias Item, cukup lihai menghilangkan jejak. Tapi polisi tidak kehilangan akal. Mereka meminta print out telepon rumah selama dua hari terakhir. Dalam pemeriksaan polisi menemukan ada sebuah nomer beberapa kali menelepon.

Saat dicek ternyata nomer tersebut milik Yohanes alias Dado. Selanjutnya, pengangguran yang sempat buka sablon selama dua pekan, dan bangkrut, dicokok petugas, 4 Februari, lalu. Saat dicari-cari, rupanya ia sedang internetan di sebuah warnet yang ada di Kampung Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. "Saat kita tangkap, dia lagi chatting," jelas kata Kapolres Depok Komisaris Besar Imam kepada detikcom.

Awalnya Dado keukeuh tidak mengaku kalau ia membunuh Anita. Tapi ketika di kamar kontrakannya ditemukan satu keping CD, dan parfum seribu satu malam milik Anita, ia tidak bisa mengelak. Apalagi Fauzan, adik laki-laki Anita mengenali kalau Dado adalah teman kakaknya. "Parfum oleh-oleh dari Mekah untuk Anita," lanjut Nurzaroni.

Setelah diancam akan disetrum, Dado akhirnya buka mulut. Ia bercerita, setelah membuang mayat Anita, yang mantan kekasihnya itu, Dado berpisah dengan dua temannya. Acong memutuskan untuk menginap dirumah Item sedangkan Dado kembali kekontrakannya di Kelapa Dua, Depok.

Untuk menghilangkan rasa takut dan bingung, Dado memutuskan untuk chatting diwarnet. Sambil menghilangkan rasa resahnya, Dado menawarkan mobil curiannya kepada teman-teman di dunia maya. Salah satu teman chatting ada yang merespon dan memberi tawaran Rp 20 juta. Tapi Dado tidak melepasnya.

Dua hari berselang, mobil berwarna silver ini dibawa oleh Item ke wilayah Lembah Hijau, Mekarsari. Mobil itu hendak ditawarkan Item ke Marshadi, saudaranya, dengan harga Rp. 30 juta. Ketika mengetahui mayat Anita ditemukan, Item mengganti nopol mobil tersebut menjadi B 8351 NZ. Tapi rencana Item pun batal. Soalnya, orang tua dari Marshadi melarang.

"Mereka tidak mau beli karena suratnya tidak lengkap," kata AKP Siswoyuwono, petugas Polsek Cimanggis.

Selanjutnya giliran Acong yang diserahi tugas menjual mobil tersebut. Mantan napi kasus curanmor ini kemudian menawarkan mobil itu ke sejumlah teman, diantaranya Rangga, yang tinggal didaerah Sunter. Tapi sayang, baru negosiasi harga, Acong keburu tertangkap. Akhirnya mobil itu bisa diselamatkan. (ron/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads