Operator peralatan itu juga sibuk bertanya-tanya mengapa terjadi begitu dan begitu, tidak sesuai dengan kompetensi awal alat tersebut.
Mengapa kunci di lutut tak membuat alarm berwarna merah ya? Mengapa logam yang disimpan oleh orang yang jongkok tidak bisa terdeteksi? Mengapa logam yang ditaruh di kaos kaki tidak terdeteksi juga? Mengapa alat ini hanya mampu mendeteksi logam sebatas yang disimpan di bagian pinggang ke atas saja?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa petugas tersebut tak menemukan jawabannya? Karena mereka belum mendapatkan training, yang disebut-sebut akan dilakukan di negeri asal alat itu, AS.
"Belum ada yang ditraining ke sana," ujar Humas PT Angkasa Pura II Wasfan kepada detikcom di ruang kerjanya, Rabu (13/2/2008).
Lalu kapan training dilakukan? "Belum tahu," jawabnya.
Menurut Wasfan, hal ini terjadi karena belum ada serah terima resmi alat itu dari Ditjen Perhubungan Udara kepada PT Angkasa Pura II, sebagai pengelola Bandara Soekarno-Hatta.
Jika serah terima telah dilakukan, tentu alat itu akan segera dioperasikan.
Di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, pejabat bandara menyatakan bahwa alat itu telah diuji coba kepada penumpang secara random. (rdf/nrl)











































