Petugas Bandara Cengkareng 'Rebutan' Jajal Body Scanner

Petugas Bandara Cengkareng 'Rebutan' Jajal Body Scanner

- detikNews
Rabu, 13 Feb 2008 15:40 WIB
Petugas Bandara Cengkareng Rebutan Jajal Body Scanner
Jakarta - Body scanner ProVision canggih memang telah berdiri di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Tapi alat ini masih diam saja alias belum difungsikan.

Alhasil saat detikcom mendapatkan rekomendasi untuk menjajal alat itu, petugas-petugas bandara yang ada di dekat alat gres itu terpana. "Kan belum boleh dipakai?" bisik-bisik di antar mereka, Rabu (13/2/2008).

Ketika detikcom mencoba memanfaatkan alat itu, petugas-petugas tersebut juga antusias untuk menjajalnya. Mereka mengamati proses kerja pemindaian yang bisa terdeteksi lewat komputer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain memelototi komputer, mereka juga bergantian memasuki ruang pemindaian yang berupa tabung tembus pandang setinggi 2,5 meter. Mereka bergantian membawa barang-barang terbuat dari logam, apakah mampu terdeteksi atau tidak.

Mengapa hanya logam yang diuji coba? Sebab alat itu didatangkan memang lebih ditujukan untuk mendeteksi benda-benda dari logam yang berbahaya. Seperti senjata api, pisau dsb. Padahal benda ini juga canggih untuk mencium zat kimia berbahaya dan narkoba.

Benda yang terbuat logam, akan terlihat bentuknya di layar komputer dan sinyal merah akan menyala. Petugas akan bertindak ketika sinyal merah itu nge-blink.

Tak cuma petugas bandara berkemeja biru yang bergantian alat itu. Seorang petugas cleaning service wanita yang tengah melintas juga kebagian waktu mencoba.

"Coba coba kalau perempuan bagaimana," kata seorang petugas. Petugas kebersihan perempuan itu pun tanpa malu-malu masuk ke ruang pemindaian. Oh, ternyata di layar monitor 'onderdil' pribadi wanita tersebut tidak terlihat jelas. Aman.

detikcom pertama kali mencoba alat itu membawa segerendelan anak kunci di saku jaket. Hasilnya, terdeteksi. Lalu diubah ke lutut. Terdeteksi juga, tapi nyala alarm merah tak menyala. Dipindah ke lipatan kaos kaki setali tiga.

Saat disembunyikan di bawah kain yang dibentuk seperti sorban, lalu ditutupi dengan topi, anak kunci logam juga tidak terdeteksi.

"Mengapa begini ya?" sesama petugas bertanya-tanya.
(nrl/umi)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait