"Alat itu belum digunakan secara maksimal. Masih dilakukan secara random, yakni kepada penumpang yang dicurigai atau penumpang yang menolak diperiksa secara manual," ujar Humas Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Ahmad Munir di kantornya, Rabu (13/2/2008).
Munir menambahkan, alat tersebut bernama lengkap Walk Through Treath Detection 3D ProVision Body Scanning. Penggunaan alat ini secara resmi masih menunggu surat keputusan Direktorat Keselamatan Penerbangan Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Munir juga mengatakan penggunaan alat ini tidak akan mengganggu privasi para calon penumpang. Sebab body scanner hanya dapat mendeteksi benda-benda yang berada di atas kulit.
Benda-benda berbahaya yang dibawa penumpang akan diindikasikan dengan warna-warna tertentu. Penumpang yang kedapatan membawa benda mencurigakan akan diperiksa ulang secara manual.
"Operatornya juga nanti akan dipisahkan, untuk penumpang wanita operatornya ya wanita. Begitu pula sebaliknya. Ini kita lakukan untuk menghormati privasi penumpang," tutur Munir. (djo/nrl)











































