"Di Indonesia calonnya harus bisa bernyanyi. Di Malaysia tidak, kami harus turun dari rumah ke rumah untuk meyakinkan rakyat agar memilih kami," seloroh anggota parlemen Malaysia dari Kelantan, Dato Mustofa Mohammed dalam dialog dengan wartawan Indonesia yang mengikuti Malaysia Internasional Visitors' Programme di Kantor Kementerian Malaysia, Putrajaya, Selasa (13/2/2008).
Sekitar 20 wartawan Indonesia yang mengikuti dialog itu pun langsung dibuat mesem-mesem. Dalam Pemilu 2004 lalu, sejumlah calon presiden memang seperti berlomba bernyanyi. SBY terkenal dengan lagu "Pelangi di Matamu saat berkampanye. Amien Rais mengeluarkan album campur sari. Megawati berlatif vokal khusus untuk bisa bernyanyi.
Dato Mustafa, selain menjadi anggota parlemen juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Malaysia. Terkait dengan pendidikan, Pria asal Kelantan itu juga menepiskan anggapan mahasiswa sebagai agent of change yang sering didengung-dengungkan di Indonesia.
Di Indonesia, mahasiswa memang sangat identik sebagai agen of change alias agen perubahan. Anggapan itu merujuk pada sejarah aksi mahasiswa baik semasa reformasi yang bisa menggulingkan Soeharto ataupun era Orde Lama yang juga sukses menjatuhkan Soekarno.
Malasyia tidak menginginkan agen perubahan itu ditanggung oleh mahasiswanya. Mahasiswa Malaysia harus fokus pada kuliahnya. Mereka dilarang untuk terlibat dalam gerakan politik. "Kami memang mengontrol mahasiswa agar tidak terjadi agresi. Mereka untuk fokus pada study," kata Dato Mustafa
Kebijakan mengontrol mahasiswa, menurut Dato Mustafa, tidak mendapat perlawanan dari mahasiswa. Data yang dipegang Kementerian Pendidikan Malaysia, jumlah mahasiswa yang terlibat dengan aktivitas politik hanya 5 persen.
Pengontrolan tersebut justru untuk menjaga kepentingan mahasiswa sendiri dan juga kepentingan masyarakat yang membayar pajak untuk mensubsidi biaya mahasiswa. "Jadi tidak fair jika hanya 5 persen sampai menentukan masa depan negara," tegas Dato Mustafa.
Untuk mencegah terjadinya demonstrasi, Dato Mustafa mengaku pemerintah sangat responsif mengatasi tuntutan mahasiswa. Menteri Pendidikan sering melakukan dialog langsung dengan mahasiswa untuk menyelesaikan kasus yang ada.
"Kamilah (pemerintah) yang menjadi agent of change, bukan mahasiswa. Jika pemerintah tidak menjadi agent of change maka kami akan kehilangan suara dan kalah dalam Pemilu berikutnya," tegas pria yang juga masuk menjadi anggota parlemen Malaysia tersebut. (iy/mly)











































