"Sebenarnya, kasus ini lebih ke arah persoalan rivalitas politik di antara para elit di Timor Leste," kata Lambang di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, di Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (11/2/2008).
Menurut Lambang, kematian Horta akan menyebabkan kekacauan politik yang lebih besar dan tidak akan mudah diatasi oleh para pemimpin politik Timor Leste. Untuk mencegah hal itu, Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmao harusnya lebih berperan lagi sebagai pemersatu di Timor Leste.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemimpin yang masih memiliki pengaruh paling kuat bagi masyarakatnya adalah Xanana Gusmao. Dia mungkin bisa untuk meredam aksi-aksi kekerasan," katanya.
Lambang menambahkan, penembakan Ramos Horta juga menunjukkan sistem politik di Timor Leste belum berjalan baik untuk menuju sebuah transisi sebagai negara baru yang demokratis. Konsolidasi politik dan penataan struktur politik di Timor Leste sejak pasca kemerdekaan belum sepenuhnya mandiri dan baru tahap menuju running demokrasi.
"Sehingga rivalitas politik belum dilakukan secara demokratis, tapi menggunakan upaya sabotase kekerasan politik," kata mantan Ketua Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM ini.
Masyarakat Timor Leste, lanjut Lambang, setelah lepas dari Indonesia pada 1999 mengalami euphoria politik yang tinggi sekali. Mereka menaruh harapan politik yang begitu besar bagi pemerintahnya. Namun, harapan yang begitu besar ini tidak sesuai dengan kondisi realitas yang ada sehingga menyebabkan munculnya tindakan kekerasan dan sabotase politik akhir-akhir ini.
Harapan yang belum kesampaian ini menyebabkan terjadinya kekerasan di Timor Leste. Ekspektasi yang tinggi dari masyarakat Timor Leste seharusnya diakomodasi oleh kelembagaan ekonomi, sosial, dan politik yang ada.
"Ini merupakan ganjalan dan menjadi tugas berat dari pemimpin politiknya," pungkas Lambang. (bgs/djo)











































