Ambar mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya Lambang Babar Purnomo, saksi ahli kasus pencurian arca di Museum Radya Pustaka. Namun dia menolak berspekulasi tentang kemungkinan Lambang dicelakai orang. Meski diakuinya, ada sejumlah kejanggalan jika kematian Lambang disebut kecelakaan murni.
Tentang adanya tekanan atau ancaman dari pihak tertentu kepadanya, Ambar mengaku sejauh ini dia merasa hal itu tidak pernah terjadi. Namun demikian dia berharap polisi dan kejaksaan secara profesional mampu memaksimalkan kerja untuk melindungi semua saksi dari ancaman kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadian itu menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya. Saya harap cukup sekali itu saja terjadi pada saya dan saksi-saksi lainnya. Saya harap di persidangan nanti hal seperti itu tidak terulang lagi karena akan menyulitkan bagi kami untuk memberikan kesaksian yang diharapkan," ujarnya kepada detikcom, Senin (11/2/2008).
Ambar juga mengaku Senin pagi tadi seorang perwira polisi dari Poltabes Surakarta menghubunginya. Perwira polisi itu mengatakan akan memberikan perlindungan dan pengamanan terhadap semua saksi, termasuk dirinya, dari kemungkinan adanya ancaman keselamatan dari pihak-pihak tertentu.
"Saya sendiri kurang tahu bentuk pengamanannya nanti seperti apa. Saya juga tidak memperjelasnya karena sejauh ini saya merasa tidak ada ancaman kecuali pada saat rekonstruksi tadi. Namun jika nantinya saya merasa ada ancaman terhadap pribadi saya, pasti saya akan segera melaporkan hal itu kepada polisi," kata Ambar. (mbr/djo)











































