Tanpa Soeharto, Kita tetap Menang

Akbar Tandjung:

Tanpa Soeharto, Kita tetap Menang

- detikNews
Senin, 11 Feb 2008 14:12 WIB
Tanpa Soeharto, Kita tetap Menang
Jakarta - Putri sulung alm mantan presiden Soeharto, Siti Hardijanti, akan kembali aktif di Partai Golkar. Spekulasi pun berkembang terkait keinginan itu.

Ada yang bilang Golkar sengaja mendekati Tutut untuk meraih dukungan dari loyalis Soeharto. Ada juga berpendapat Golkar berharap suntikan dana segar dari keluarga Cendana tersebut.

Tapi seberapa besar pengaruh Tutut panggilan akrab Siti Hardijanti terhadap perolehan suara Golkar? Menurut mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, itu perlu diteliti dan dikaji lebih dulu. Berikut petikan wawancara detikcom dengan Akbar Tandjung, Sabtu, pekan lalu.

Apakah benar Tutut kembali bergabung dengan Golkar?

Bisa Saja Mbak Tutut masuk ke Golkar. Tapi kalau dilihat komentar Pak Hartono (Ketua Umum PKPB) yang cukup keras ke Golkar, Tutut masih di PKPB. Tapi itu kita serahkan kepada Tutut. Golkar bisa saja menerima kembali. Tapi posisi dia harus clear dulu di PKPB.

Apakah kehadiran Tutut sangat berpengaruh dalam perolehan suara Golkar ke depan. Terutama dari loyalis Soeharto?

Itu harus diteliti dulu secara mendalam. Contohnya saja saat Pemilu 1999, dimana keluarga Cendana sudah tidak aktif di partai, Golkar masih bisa menduduki peringkat ke dua setelah PDIP. Dan pada Pemilu 2004 Golkar duduk di urutan pertama. Sementara PKPB kita semua tahu berapa suara yang mereka peroleh sekalipun menjual nama keluarga Alm Soeharto.

Tapi mungkin bisa saja setelah Soeharto wafat ada pengaruhnya terhadap dukungan. Sebab banyak masyarakat yang bersimpati dengan wafatnya Soeharto. Tapi itupun perlu dikaji dan diteliti lagi.

Kalau bukan masalah suara dukungan apakah berorientasi dana?

Tapi menurut saya Golkar harus bisa hidup dan berkembang dengan kekuatan sendiri.

Bagaimana soal dana Yayasan Dakab yang dulu sempat DPP Golkar minta saat anda memimpin. Apakah bisa dicairkan kalau Tutut bergabung?

Sepertinya sangat sulit. Sebab yayasan-yayasan itu, termasuk Dakab sedang dalam masalah hukum. Prosesnya sedang berjalan saat ini. Dulu DPP meminta dana itu sebab sepengetahuan Golkar dana itu untuk partai. Sedangkan yayasan hanya bertugas mencari dan mengumpulkan. Tapi saat diminta tidak diberikan dengan berbagai alasan. Akhirnya Golkar mencari sumber dana sendiri dari kader dan simpatisan.

Kalau itu memang dana Golkar kenapa tidak diurus lagi?

Saya kira Golkar tidak akan mengurus lagi.

Kalau keluarga Cendana berusaha dirangkul. Bagaimana dengan militer?

Kalau militer saya rasa tidak menjadikan Golkar pilihan utama para purnawirawan. Kita lihat saja, banyak purnawirawan yang tersebar di sejumlah partai, misalnya PKP, Hanura, Paratai Demokrat. Komposisi mereka di paratai-partai tersebut lebih banyak dibanding di Golkar.

Belum lama ini Muladi mengatakan Golkar akan mencalonkan pasangan SBY-JK dalam Pemilu 2009. Apakah bisa dipastikan?

Itu hanya pikiran Pak Muladi saja. Sebab calon presiden yang sudah pasti akan diamanatkan setelah adanya rapimnas Golkar 2009 mendatang. Untuk itu akan dilakukan survei terhadap tokoh-tokoh yang layak dan patut dicalonkan Golkar.

Selain itu kita juga akan melihat perolehan suara Golkar pada pemilu legislatif. Apakah perolehan suara Golkar lebih tinggi atau lebih rendah dari pemilu 2004. Bila perolehan suara lebih banyak, kita mungkin akan berpikir untuk mencalonkan presiden dari ader partai.

Lantas ada apa di balik komentar Muladi?

Saya melihat Muladi ingin mempertahankan SBY-JK karena latarbelakang yang realistik. Dan itu pendapat pribadi JK juga.

kalau pandangan kader-kader partai yang lain bagaimana?

Kita masih menunggu Rapimnas mendatang, dan berdasarkan opini yang berkembang terhadap salah satu calon presiden. Bila menjadi pemenang pemilu mungkin bisa kita mencalonkan presiden dari kalangan internal partai. Tapi bila hasilnya kurang, Golkar tidak akan memaksakan diri untuk maju sebagai capres.

Kalau anda sendiri apakah akan maju dalam pemilu capres 2009?

Saya lihat dulu mekanisme yang dilakukan Golkar dalam menjaring capres. Kalau melalui konvensi saya akan ikut sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa. Ajang konvensi tersebut bagi saya sangat demokratis. Itu sebuah inovasi politik. Dan apresiasi masyarakat sangat tinggi. Terbukti dengan meningkatnya perolehan suara Gokkar pada 2004.

Berarti kalau tidak ada konvensi tidak akan maju?

Sekarang belum ada langkah apa-apa. Saya memantau saja dulu terhadap langkah Golkar dalam proses perekrutan. Saya wait and see saja.

Ketua Umum PKPB Hartono bilang Golkar yang sekarang adalah para brutus (penghianat) terhadap mantan Presiden Soeharto selaku Dewan Pembina Golkar. Apa tanggapan anda?

Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Sebab sebagian orang Golkar saat itu, seperti Harmoko selaku ketua umum banyak mendapat desakan dan tekanan dari berbagai pihak, terutama mahasiswa. Sedangkan opini yang berkembang saat itu sangat menginginkan Soeharto untuk berhenti dari jabatannya. Karena itu Harmoko kemudian meminta mundur. Sekalipun itu bukan suara bulat partai.

Tapi setelah Soeharto berhenti Golkar kemudian tetap mendapat banyak tekanan dari berrbagai pihak. Dan Alhamdulillah Golkar bisa melewatinya. Golkar bisa tetap eksis dan berkembang meski tanpa Soeharto. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads