Tapi bila Anda perhatikan, ada perbedaan yang menggelitik. Perbedaannya pada dasarnya muncul karena penerapan aturan syariat Islam yang berlaku di bumi rencong ini.
Dalam hal-hal kecil saja, misalkan dari gambar-gambar iklan yang terpampang. Contohnya, sebuah iklan sebuah produk operator GSM yang menawarkan tarif termurah sampai 0,1 detik. Bila di Jakarta, iklan itu dihiasi wanita cantik berbaju seksi berwarna oranye. Di Banda Aceh, papan iklan besar yang terpasang di gerbang kota itu terlihat tak jauh berbeda, hanya saja si wanita tertutup rapat dan memakai jilbab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang detikcom saksikan, pada Minggu 10 Februari 2008. Sang petugas tak segan menyabetkan rotannya kepada seorang pengunjung untuk menjauh dari tangga masjid, karena mengambil gambar dengan wanita pasangannya.
Demikian pula bila waktu salat tiba. Selesai azan dikumandangkan, seorang petugas akan berkeliling mengingatkan pengunjung agar segera salat. Tentunya hal ini tidak kita temukan di Jakarta.
Hal lainnya, bisa kita lihat di alun-alun kota. Hampir wanita yang ada seluruh lokasi bermain dan sarana hiburan warga mengenakan jilbab, meski ada satu dua yang berkerudung. Tentu kondisi ini pun tentu tidak kita dapatkan di Jakarta.
Satu lagi yang menarik, di Aceh sepertinya masih minim tukang parkir. Untuk sebuah lokasi perbelanjaan, di pinggir jalan di mana toko-toko berada di pusat kota, sama sekali tidak kita temukan pria-pria macam di Jakarta yang biasa memakai baju oranye dan memakai peluit.
Bahkan seorang teman yang memarkirkan mobil dan sudah menyiapkan uang parkir Rp 1.000 sampai terheran. "Wah, kalau di Jakarta sudah jadi lahan rebutan nih," ucap seorang teman.
Dan yang membedakan lain adanya polisi agama, yang biasanya memberikan hukumanย pada para pelanggar dengan hukuman cambuk dan biasanya dilaksanakan pada hari Jumat.
Tentunya masih banyak hal menarik lain yang berbeda. Memang lain Jakarta, lain pula Banda Aceh. (ndr/aba)











































