Kesalahan itu diakui mantan presiden AS dua periode tersebut. Clinton menyebut, strategi pembelaan terhadap istrinya dan menyerang balik Barrack Obama sebagai langkah yang justru keliru dan sebaliknya merugikan istrinya.
Terbukti ketika Obama menang telak pada pemilihan awal di negara bagian South Carolina beberapa waktu lalu. "Kesalahan yang saya buat adalah, saya berpikir bisa seperti pasangan lain yang membela istrinya yang menjadi kandidat," kata Clinton seperti dikutip AFP, Sabtu (9/2/2008).
"Saya berpikir bisa mempromosikan Hillary, tapi tidak membelanya, karena saya adalah seorang mantan presiden. Saya harus membiarkan dia atau orang membelanya," lanjut Clinton.
Sebelumnya, dalam kampanye menjelang pemilihan awal di negara bagian South Carolina, Clinton menyerang Obama dengan menyebutnya berbohong soal kisah Obama menolak perang Irak selama menjadi senator.
Kritikan itu kemudian berkembang dan diinterpretasikan para pendukung Obama sebagai upaya menjegal langkah Obama menjadi presiden kulit hitam pertama.
Hal itu kemudian menjadi blunder besar bagi kubu Hillary, karena para pemilih yang sebagian besar kulit hitam di South Carolina semakin meneguhkan dukungannya kepada Obama.
Meski mengaku salah, Clinton bersikukuh dia tidak pernah menyampaikan kritik seperti yang beredar di media-media. "Saya tidak pernah mengkritik Senator Obama di South Carolina," tegas Clinton yang sedang mendampingi istrinya di Portland.
Clinton kemudian malah menyalahkan media yang disebutnya salah mengutip ucapannya. "Bagaimanapun saya membela Hillary, saya beresiko salah dikutip (oleh media), dan menjadi cerita. Saya tidak mau menjadi bagian dari cerita," cetus Clinton.
"Mulai sekarang, saya akan melakukan apa yang diperintahkan. Saya tidak akan berada di kabinet, dan saya tidak akan menjadi staf penuh," pungkas Clinton.
(bal/bal)











































