Pertanyaan-pertanyaan itu masih butuh waktu lama untuk terjawab. Lama karena proses pemilu AS memang complicated.
Namun terlepas dari itu, pemilu AS tahun ini memang menarik. Apalagi kalau bukan karena dua figur yang belakangan ini ramai dibicarakan. Barack Obama dan Hillary Clinton. Dua kandidat Partai Demokrat itu tengah bertarung ketat untuk menjadi wakil partai dalam pemilihan presiden (pilpres) AS, November mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini masih terlalu dini untuk mengetahui siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari duel sengit Obama-Hillary. Setelah 'Super Tuesday' yang digelar serentak di 22 negara bagian AS, keduanya masih sama-sama punya peluang besar untuk memenangi ajang nominasi Partai Demokrat. Berbeda dengan kubu Republik yang saat ini telah menunjukkan kandidat dominan: John McCain.
Pemilihan tingkat partai masih akan digelar di sejumlah negara bagian AS. Belum lagi konvensi nasional masing-masing partai yang akan secara resmi mengumumkan kandidatnya untuk maju dalam pilpres AS.
Untuk Partai Republik, konvensi akan digelar pada awal September mendatang di Minneapolis. Sedangkan untuk Partai Demokrat, konvensi akan berlangsung pada akhir Agustus di Denver, Colorado.
Saat ini proses menuju Gedung Putih masih pada tahap nominasi partai. Usai 'Super Tuesday', otoritas masih harus menghitung perolehan jumlah delegasi masing-masing kandidat.
Perolehan jumlah delegasi ini merupakan kunci kemenangan kandidat. Jadi, calon presiden (capres) ditentukan berdasarkan perolehan mayoritas delegasi untuk memenangi nominasi partai mereka. Selanjutnya para delegasi itulah yang nantinya akan dikirim ke konvensi nasional partai untuk memilih kandidat partai yang akan bertarung dalam pilpres AS.
Dalam pilpres November mendatang inilah akan terlihat perbedaan mencolok antara pemilu AS dengan negara-negara lain di dunia. Di negara-negara lain, kandidat yang meraih dukungan terbesar akan keluar sebagai pemenang pemilu.
Namun dalam pilpres AS praktis diputuskan oleh electoral college yang berjumlah 558. Rakyat AS sebetulnya memilih mereka dan tidak memilih kandidat presidennya. Jumlah electoral college ini ditentukan oleh jumlah penduduk di masing-masing negara bagian. California yang penduduknya paling padat mempunyai 55 electoral college.
Electoral College adalah dewan pemilih yang akan memilih presiden. Anggotanya dipilih oleh rakyat pada hari pemilu. Para utusan itu sudah berjanji di awal untuk memilih kandidat tertentu. Ini artinya pilihan rakyat tidak mutlak menentukan kemenangan seorang capres.
Pemenang pilpres ditentukan oleh suara para pemilih dalam electoral college. Jadi sebanyak apapun jumlah suara yang mendukung capres, jika tidak berhasil mendapatkan setidaknya 270 suara dari electoral college tadi, capres itu tidak akan terpilih.
Sistem inilah yang menguntungkan George W Bush dalam pilpres 2000 silam sehingga berhasil mengalahkan capres dari Partai Demokrat, Al Gore, yang sebenarnya memenangi mayoritas suara rakyat namun kalah dalam perolehan suara electoral college.
Jadi perjalanan menuju Gedung Putih memang masih panjang dan.... seru!
(ita/ita)











































