"Dari beberapa perusahaan bus yang kita hubungi, tersedia 30 bus gratis dibawa ke Cikokol. Masalahnya, penumpang belum banyak yang tahu Cikokol itu dimana. Nanti kalau nyasar di sana, bagaimana lagi," ujar Direktur Pengembangan Usaha Angkasa Pura II Tulus Pranowo.
Hal itu disampaikan dia dalam diskusi rountable bertajuk 'Banjir di Bandara Soekarno-Hatta' di Kantor DPP Golkar, Jl Angrek Nelly Murni, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (6/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak heran, banyak penumpang yang lebih memilih untuk menginap di bandara. Akibatnya, beberapa masalah muncul.
"Restoran yang melayani dalam kondisi normal diserbu dan habis. Ibu-ibu susah mencari susu kaleng buat bayinya," kata Tulus.
Namun, lanjut Tulus, penumpang yang menunggu sambil tidur-tiduran di terminal bandara dan kemacetan di tol Bandara sudah lazim terjadi kendati tidak banjir.
"Di Terminal I, tidak terjadi banjir pun kalau menunggu tidur-tiduran. Bawa nasi bungkus. Ini realita, mungkin beda segmennya," jelas Tulus.
Begitu juga dengan Tol Bandara. Tanpa banjir pun, setiap Jumat sore Tol Bandara macet.
Akibat banjir pada 1-3 Februari 2008, AP II mencatat ada 669 penerbangan tertunda baik internasional maupun domestik.
Sedangkan kehilangan pendapatan pelayanan penerbangan seperti dari parking fee maupun landing fee mencapai Rp 3,1 miliar. Untuk biaya transportasi dan konsumsi penumpang mencapai Rp 50 juta.
"Dan citra kesalahan semua dilimpahkan ke Angkasa Pura tapi yang penting kerugian besar dialami penumpang kita," pungkas Tulus. (nik/nvt)











































