"Tiara malu keluar rumah, takut jumpa sama kawan-kawan sekolah. Tiara selama ini sering diejek teman-teman sekelah karena mamak punya utang di sekolah," kata Tiara, bocah berambut panjang itu, saat ditemui detikcom di rumah kontrakan orangtuanya, Jl Adi Sucipto, Gg Gotong Royong, Pekanbaru, Rabu (6/2/2008).
Ejekan itu berawal ketika Kepsek SD Negeri 003 Pekanbaru, Zulkifli, mencari seorang murid baru di kelas 4. Waktu itu para siswa tengah belajar. Tanpa basa-basa Zukifli langsung bertanya kepada siswa kelas 4, mana siswa yang bernama Tiara.
Para siswa pun menunjuk Tiara. Sambil menatap ke arah bocah itu, Zulkifli berkata, "Bilang sama mamakmu supaya melunasi utangnya. Kalau tidak silakan cari sekolah lain."
Menurut Tiara, setidaknya empat kali Zulkifli masuk ke kelasnya pada jam belajar hanya untuk mengingatkan agar utang itu dilunasi.
Terakhir Zulkifli menagihnya pada 4 Februari 2008 lalu. "Suruh mamakmu besok datang ke mari," kata Zulkifli kala itu. Sejak itu pula Tiara dan adiknya, Haikal, menggantung baju seragam sekolahnya.
"Tiara takut melihat kepala sekolah, takut ditagih utang. Tiara nggak mau lagi sekolah di situ. Tiara mau sekolah lain saja. Bantulah Tiara carikan sekolah yang baru ya Om," pinta bocah itu dengan polos kepada wartawan.
Sementara itu, Hilda Wati, ibu kedua anak itu menyebut, sejak anaknya tahu dia masih berutang ke sekolah, Tiara berubah jadi pemurung. Dan sejak dipecat, kedua anaknya lebih banyak mengurung diri.
"Haikal belum tahu apa yang terjadi, tapi si Tiara sudah mengerti. Dia sudah lama trauma dan tidak kosentrasi belajar karena malu teman-temanya gara-gara sering ditagih uang pembangunan WC yang masih tersisa Rp 750 ribu dari yang diwajibkan sebesar Rp 1 juta," tutur Hilda.
Wilda sendiri masih terlihat bingung memikirkan kemana anaknya mau dipindahkan. "Kalau masih sekolah di situ saya takut nilai rapor anak-anak saya ditekan pihak sekolah. Itu makanya, lebih baik pindah. Tapi saya belum tahu ke mana. Apa lagi kalau sekolah yang baru nanti juga minta uang pembangunan lagi. Kemana saya cari uangnya," curhat Hilda. (cha/nvt)











































