"Lihat saja safari politik Megawati dengan kritik Poco-poco. Itu sebagai upaya memulihkan citra PDIP," kata pengamat politik dan peneliti LIPI Syamsuddin Haris.
Analisis itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk "Islam dan politik Indonesia menjelang Pemilu 2009" yang diselenggarakan di Gedung LIPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (6/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini, lanjut dia, bukan disebabkan parpol-parpol Islam gagap dalam berpolitik, tapi lebih karena partai-partai nasionalis yang telah belajar dari pengalaman merosotnya suara mereka. "Partai-partai nasionalis kini lebih responsif," sebut Syamsuddin.
Dia mencontohkan PDIP yang kini punya sayap politik keagamaan Baitul Muslimin Indonesia. "Itu sebagai bentuk pencitraan kalau PDIP bukan partai yang anti Islam. Mereka ingin merangkul para pemilih di luar basis massanya," imbuh Syamsuddin.
Syamsuddin kemudian menganalisa fakta kemenangan PDIP pada pemilu 1999. "PDIP bisa menang karena didukung santri bahkan orang-orang Islam yang sebetulnya menginginkan penerapan syariat Islam," katanya.
Sebaliknya, meningkatnya suara PKS pada pemilu 2004 karena banyaknya dukungan dari para pemilih yang berasal dari kelompok nasionalis. Tapi, lanjut dia, hal itu akan sulit terulang kembali pada 2009 nanti.
Faktor lain yang membuat suara parpol Islam merosot adalah minimnya tokoh-tokoh yang figurnya dikenal luas yang mampu menjadi daya tarik bagi pemilih. "Perolehan suara parpol pada 2009 sulit meningkat," simpul Syamsuddin.
(bal/umi)










































