Dia juga bisa menyambung hidup. Bekerja serabutan, dan kawin dengan penduduk setempat, beranak-pinak hingga lupa pulang kampung ke Melbourne sana.
Dan kadang kalau ada yang usil mengungkit statusnya sebagai Warga Negara Asing (WNA), maka sang teman yang tinggal di sebuah desa di Ubud itu hanya perlu mengajak pengurus banjar itu berkelakar. Ha ha hi hi ujungnya, dan buntutnya jadi pertemanan.
Bangsa ini memang ramah dan humoris. Kelakar dan humor segar bisa menghapus segalanya, juga sampai soal usut-mengusut status warga negara.
Adakah hanya orang bule yang merasakan kita ini ramah dan humoris? Jawabnya tentu saja tidak. Kita sendiri yang asli Indonesia juga tergelak-gelak, terutama hari-hari ini, di saat Mbak Mega melontarkan kritik dan dijawab kritik.
Tidak percaya? Kita mulai dulu dagelan ini dengan pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Saat di Palembang, putri proklamator ini menyebut pemerintah kayak menari poco-poco. Maju selangkah mundur selangkah.
Mbak Mega mengucapkan kalimat itu dengan tangan Kritik itu dilontarkan dengan tangan terkepal, suara lantang, serta mimik ekspresif. Gaya itu memang pas, sebagai personifikasi 'partai oposisi'. Hanya, ketika yang dipilih sebagai padanan kritik itu 'tari poco-poco', maka pidato yang menggebu-gebu ini jadi kehilangan roh. Mirip preman yang bertampang garang tapi lengannya ditato ikan pindang.
Kritik itu makin lucu saja ketika kader 'partai pemerintah', Partai Demokrat mengomentarinya dengan tak kalah slebor. Katanya, saat Megawati memerintah, jalannya pemerintahan kayak undur-undur. Mundur terus, dan terus-terusan mundur.
Undur-undur dan poco-poco bagi bangsa ini tak pantas dijadikan sarana kritik. Soalnya poco-poco adalah hiburan sekaligus olahraga. Sedang undur-undur adalah binatang unik dan lucu, kendati terakhir banyak yang memanfaatkannya sebagai obat mujarab.
Dari sisi ini, harusnya dua pihak tak 'kebakaran jenggot', karena dua contoh yang dipakai itu adalah positif. Kalau kemudian dampak yang diakibatkan ternyata ambigu, ini yang membuat kita bertambah ngakak. Dikritik baik kok marah.
Adakah hanya itu eksistensi kita sebagai warga negara yang humoris? Ternyata ada lagi. Ini terkait dengan musibah tujuh Marinir yang tewas di tank amphibi ketika latihan di laut Situbondo, Jawa Timur.
Dalam menyikapi tragedi itu, SBY dengan wajah serius memberi instruksi, agar alat perang yang usang tidak dioperasionalkan. Instruksi ini membuat Kasal 'kelabakan.' Petinggi Angkatan Laut itu 'membantah' dengan menyatakan, alat perang itu masih layak laut, karena sudah diremajakan.
Kenapa Kasal 'membantah'? Kalau kita plesetkan, mungkin dalam benak Kasal tergambar, kalau alat-alat perang berusia tua itu ditarik, maka Angkatan Laut tidak punya apa-apa lagi. Sebab semua alat 'canggih' itu sudah out of date. Ketinggalan jaman.
Jangan-jangan, jika instruksi SBY serius, maka untuk melakukan patroli di lautan yang luas itu hanya berbekal perahu karet atau pakai alat manual, berenang dengan modal tangan dan kaki doang.
Kita memang benar-benar humoris. Dan rakyat memang butuh humor dari para petinggi negeri ini. Benarkah begitu? Ha ha ha !
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (djo/iy)











































