"Golkar mengambil Mbak Tutut itu suatu keberanian yang luar biasa, karena Golkar sebelumnya telah membuat jarak dengan Orde Baru dan Soeharto," ujar pengamat politik Universitas Paramadina, Jakarta, Yudi Latief, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (6/2/2008).
Namun, lanjut Yudi, watak Partai Golkar memang demikian. Dari dulu, partai berlambang pohon beringin itu selalu bersikap pragmatis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, sejak sakit hingga proses pemakaman rampung, apresiasi masyarakat terhadap Soeharto melonjak. Masyarakat ternyata masih mengelu-elukan penguasa Orde Baru itu.
Yudi mengatakan, pengaruh Soeharto, yang juga pernah sebagai pembina Golkar, itu tentu tidak disia-siakan Partai Golkar. Apalagi kalau bukan untuk kepentingan pemilu 2009 nanti.
"Karena itu, sebenarnya Golkar masih lebih Orde Baru dibanding Partai Karya Pembangunan Bangsa (PKPB)," imbuh Yudi.
Yudi menyarankan, jika ingin karir politiknya cemerlang, Tutut lebih baik menerima pinangan Partai Golkar. Partai pimpinan Jusuf Kalla itu lebih prospektif bagi Tutut yang kini masih tercatat sebagai kader PKPB itu.
"Saya kira kalau dilihat dari perspektif mbak Tutut, lebih prospektif kalau di Golkar," pungkas Yudi. (irw/gah)











































