"Kegiatan kami itu hanyalah pelatihan dan konsolidasi saja. Sharing masalah kebangsaan, misalnya harga harga kebutuhan pokok yang naik, menguatnya Orde Baru dan sebagainya," ujar panitia pengarah Sekber Hasan Sofyan kepada detikcom, Rabu (5/2/2008).
Menurut pria yang akrab dipanggil Upik itu, Sekber dibentuk di Yogyakarta pada 25 Mei 2002. Organisasi itu tidak ada sangkut-pautnya dengan gerakan komunisme di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upik menceritakan, penyerangan terjadi pada Selasa, 5 Februari 2008, sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, dia dan 150 anggota Sekber dari 19 kota di Indonesia sedang mengikuti pelatihan di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.
Tiba-tiba, lanjut Upik, massa dari Forum Anti Komunis Indonesia (FAKI) Yogyakarta masuk ke dalam gedung dan menyerang para peserta. Selain membubarkan kegiatan yang berlangsung sejak sehari sebelumnya itu, mereka juga melakukan aksi kekerasan.
"Kami dipukul dan diinjak-injak. Berkas-berkas juga dibakar," ujar Upik.
Akibat perlakukan itu, menurut Upik, beberapa kawannya mengalami cidera. Sementara ini, mereka bersembunyi di suatu tempat.
"Kegiatan akan tetap kami lanjutkan. Kami juga akan membawa kasus ini ke jalur hukum," sambung Upik.
Upik mengatakan, sejumlah aparat TNI dan polisi sebenarnya tampak berjaga di lokasi. Namun, mereka tidak melakukan tindakan apa pun.
"Seharusnya aparat melindungi warga. Namun penyerangan itu dibiarkan saja oleh aparat," imbuhnya.
(irw/gah)











































