"Belum (belum dengar). Kalau surat itu ditemukan yang berhak untuk membenarkan atau membantah adalah dari BIN. BIN yang harus menjawab kebenarannya. Yang berhak untuk membantah adalah As'ad (Waka BIN), karena As'ad yang menandatanganinya," tegas Assegaf saat dihubungi wartawan, Selasa (5/2/2008).
Saat ditanya tanggapannya selaku pengacara Polly, Assegaf menegaskan, keberadaan surat itu sangat tidak logis. "Tidak logis, masak dalam satu operasi intelijen ada surat seperti itu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa saja. Ini suatu misteri, ada orang yang mengatakan ada surat, sementara yang lain bilang tidak ada surat. Berarti ada yang bohong dan ada yang benar. Pakai logika! Kalau benar kenapa surat itu disimpan Indra selama 4 bulan, dibawa mondar-mandir," cetusnya.
Assegaf mempertanyakan, apakah demikian sebuah operasi intelijen untuk membunuh seseorang dilakukan. "Kalau iya, kan betapa gobloknya!" tegas dia.
Apalagi BS (anggota BIN) yang dimunculkan dalam BAP, kata dia, juga tidak pernah dihadirkan.
"Itu lebih misteri. Orang itu seharusnya bisa didatangkan, ini berkaitan dengan nyawa seseorang, tapi malah dikatakan melakukan tugas di luar negeri. Logis tidak itu! Padahal Polly juga datang ke pengadilan untuk melihat BS, tapi tidak ada kan? Ini semua misteri," katanya.
Dalam sidang beberapa waktu lalu, Indra mengaku Polly pernah memberikan surat penugasan dari BIN sebagai aviation security Garuda.
Namun 4 bulan setelah diserahkan, surat yang dibawa Indra kemana-mana itu hilang saat mobil Indra dibobol maling. Saat itu mobil diparkir di parkiran Hotel Sahid. Namun Polly selalu mengelak dan membantah telah menyerahkan surat tersebut.
(umi/asy)











































