RI, Tiga Hari untuk Selamanya

Laporan dari Goteborg

RI, Tiga Hari untuk Selamanya

- detikNews
Senin, 04 Feb 2008 20:28 WIB
RI, Tiga Hari untuk Selamanya
Goteborg - Indonesia adalah negara terbuka, meskipun berpenduduk muslim terbesar di dunia. Publik Swedia terperangah, bahwa remaja Indonesia ternyata tak beda jauh dengan mereka.

Setelah agenda utama di Stockholm usai, Dody Kusumonegoro menjemput dan mengajak saya melesat ke Goteborg, Sabtu (2/2/2008). Jarak dua kota ini 455km, kira-kira Den Haag-Paris. Apa misi kali ini? Dody cuma tersenyum. "Tunggu dan saksikan sendiri," ujarnya dengan bahasa Inggris accentless.

Mobil bertambah galak membelah jalanan ke arah barat daya. Di tangan Dewi Carina Widowaty, staf Dody, Volvo S60 berubah liar seperti kuda Arab dipacu maksimal. Wuz! Sementara Dody mengalihkan pembicaraan ke topik sejarah bangsa-bangsa, sambil sesekali menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun menjelang Jonkoping, yang di Indonesia populer karena produk korek apinya, kawan satu ini akhirnya tidak bisa mengelak lagi. "Kita akan support Riri Reza. Dia sedang berjuang untuk nama harum bangsa di festival film internasional Goteborg," kata Dody, seraya menjelaskan siapa Riri dan sedikit latar belakang tentang perfilman Indonesia mutakhir.

Tepat pukul 17.20, setelah 4,5 jam perjalanan dan fresh up sekadarnya, kami tiba di lokasi Goteborg International Film Festival (GIFF). Film Riri, Tiga Hari untuk Selamanya, diputar malam itu. Matahari sudah lama tenggelam sejak pukul 16.09. Publik Swedia hiruk pikuk antre membeli karcis.

GIFF ini adalah ajang internasional bergengsi di Swedia, melibatkan branch industri perfilman dan publik. Tidak hanya film, tetapi juga diramu dengan konser, lektur, dan pameran.

Pergumulan, Terbuka

"Indonesia tidak seperti yang Anda bayangkan. Meskipun berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, namun Indonesia adalah negara terbuka," Riri membimbing audiens pada sesi diskusi seusai pemutaran filmnya.Hari itu dia berperan tidak hanya sebagai sutradara, melainkan juga seorang diplomat yang sadar apa yang harus dilakukan untuk negaranya.

"Indonesia adalah rangkaian mosaik dari berbagai macam bahasa dan kebudayaan lokal. Seperti ditunjukkan tadi dalam film, beda tempat beberapa kilometer saja sudah beda bahasa, makanan, nilai dan tradisi lokalnya," papar Riri.

Film Riri berdurasi 104 menit, itu bagi publik Swedia membawa beberapa pesan penting dalam pergumulan isu dan diskursus antarbangsa yang sekarang terjebak pada dua kubu saling ekstrim. Mereka jadi tahu bahwa kehidupan sebagian remaja Indonesia ternyata tidak berbeda dengan mereka.

Ambar (Adinia Wirasti) meskipun muslimah namun tidak berkerudung dan mengisi usia remajanya dengan kehidupan malam liar, merokok, narkoba hingga seks bebas. Ia juga mengabaikan nilai-nilai tradisional perkawinan. Sementara sepupu Ambar, Yusuf (Nicholas Saputra) akhirnya mencicipi seks pranikah dengan Ambar. Perjalanan 3 hari dari Jakarta ke Yogya dua saudara sepupu itu akhirnya mengubah perspektif mereka tentang cinta, kehidupan dan harapan.

Film Riri itu bagi sebagian kalangan domestik mungkin saja bisa mendatangkan kegelisahan, begitu cepatnya gaya hidup remaja Indonesia berubah. "Namun bagi publik asing seperti Swedia, film yang diputar tiga hari berturut-turut itu telah mengubah cara pandang mereka terhadap Indonesia," cetus Dody, seusai diskusi.

Meskipun tidak direncanakan, film tersebut sedikit banyak telah membantu untuk kepentingan menarik kunjungan mereka, yang kebetulan sedang gencar dipromosikan oleh perwakilan Indonesia di negeri itu. "Dan menyaksikan saudara sebangsa unjuk prestasi di tingkat internasional itu selalu memantikkan rasa bangga," tambah Dody.

Setelah tiga hari itu persepsi menyeramkan terhadap Republik Indonesia diharapkan terhapus untuk selama-lamanya. Di lounge menunggu boarding KL1110, Minggu (3/2/2008), sambil menulis catatan ini saya ingat ucapan Dody tersebut. "RI... Tiga hari untuk selamanya, three days to forever!"

1. Festival Film Internasional Goteborg (GIFF), Swedia.
2. Dewi Carina Widowaty, staf Dody.
3. Draken, Lokasi GIFF.
4. Kanan ke kiri: Dody, Riri, Eddi
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads