Penutupan itu dilakukan menyusul sering tertabraknya tiang pelindung oleh tugboat. Insiden terakhir terjadi pada 30 Januari 2008 lalu.
Keputusan menutup Jembatan Ampera itu didasarkan hasil rapat Pemerintah Provinsi Sumsel dengan pihak terkait, Senin (4/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rapat yang berjalan alot itu akhirnya disimpulkan untuk sementara Jembatan Ampera ditutup batu angkutan batubara hingga ditemukan solusi terbaik yang tidak merugikan semua pihak.
Peristiwa penabrakan tiang pelindung ini sudah empat kali terjadi sejak tiang dibangun ssatu tahun lalu. Sebelumnya, tiang pelindung juga sempat jadi sasaran tongkang pengangkut batubara. Sejak kasus terakhir tiang pelindung Ampera menjadi miring dan dkhawatirkan akan berdampak semakin buruk di kemudian hari.
Pada peristiwa 30 Januari lalu, tugboat penarik tongkang King Fisher bermuatan batu split ratusan ton dan pemandu kapal belakang, KM Teratai, melintas di bawah Jembatan Ampera. Diduga karena tidak hati-hati, kapal dari arah Pelabuhan Boom Baru itu tidak bisa dikendalikan dan menabrak tiang pelindung.
Kepala Satuan Teknis Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolis Aidil Fiqri mengaku tidak sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi sebab kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Dia menegaskan, jika tidak ada tiang pelindung, nasib Jembatan Ampera yang usianya sudah setengah abad itu tidak tahu akan seperti apa.
Jembatan Ampera dibangun tahun 1964. Ampera memiliki panjang 666,2 meter, lebar 22 meter, tinggi 11,50 meter dan tinggi menara 65 meter. Jembatan ini dibangun atas biaya pampasan perang Jepang dan dirancang Ingenjeur Buro rhein/Ruhr GMBH tahun 1961, konsultan asal Jerman. Ampera diresmikan pada 10 November 1965 dengan nama Jembatan Bung Karno.
PT BA Tak Rugi
Sementara dari pihak PT Bukit Asam, menurut General Manajer Unit Dermaga Kertapati Rahmatullah mengatakan, penutupan sementara Jembatan Ampera itu tidak akan merugikan pihak PT Bukit Asam yang selama ini menggunakan bagian bawah Ampera untuk mengangkut batubara.
Yang dirugikan, kata dia, justru Pemprov Sumsel sebab selama satu tahun daerah menerima Rp 270 miliar. Dana itu meliputi, PPN sebesar Rp 105 miliar, Royalti Rp 48 miliar, SP3 Rp 4 miliar, dan dividen sebesar Rp 103 miliar.
Setiap hari, kata Rahmatullah, angkutan batubara yang melintasi Ampera antara mencapai 5.000-6.000 ton. "Jika memang ini distop kita tidak masalah, sebab yang rugi bukan kita, tapi pemerintah daerah. Kita sendiri bisa mengambil dari Tarakan," kata Rahmatullah.
Dampak terhambatnya kiriman batubara ini diduga akan menyebabkan stok batubara di PLTU Suralaya berkurang, sebab PT BA hanya mengandalkan pengiriman melalui kereta api, yang juga sering kali terjadi kecelakaan.
(tw/umi)











































