Publik memang sudah bosan dengan Bush, dan ini berdampak serius untuk Partai Republik. Jagonya pasti kandidat-kandidat baru, tapi rohnya tetap sama. Elang-elang neo konservatif pada dasarnya masih menjadi motor di Republik. Isu perang Irak adalah pertaruhan gengsi dan kepentingan modal. Sebuah risiko dalam bisnis dan prajurit-prajurit adalah alat produksi yang bisa dibelanjakan dan dihabiskan, sampai tujuan ekonomi di Irak bisa diraih. Jalan untuk berbagai gurita perusahaan multinasional (multinasional corporation/MNC) yang sahamnya dibagi rata di antara elang-elang ini.
Maka, Hillary dan Obama sungguh tampil sebagai pemimpin alternatif. Mereka akan menjadi presiden perempuan pertama atau kulit hitam pertama. Keberadaan mereka yang menjadi favorit pada esensinya adalah penantang sejati tradisi politik AS yang diimani kelompok neo konservatif: The White Anglo Saxon Protestant (and male).
Pemilu AS 2008 memiliki daya tarik tersendiri. Dunia menunggu, akankah tradisi ini berhasil didobrak? Akankah demokrasi di AS tidak sekadar --meminjam konsep Ernesto Laclau-- empty signifier, penanda kosong yang pemaknaannya dihegemoni sepihak oleh kubu konservatif?
Kemenangan Hillary atau Obama, keduanya akan mengukir sejarah. Sejarah yang harus dicegah mati-matian oleh Republikan. (fay/iy)











































