Korban Soeharto Tabur Bunga di Bawah Patung Soekarno-Hatta

Korban Soeharto Tabur Bunga di Bawah Patung Soekarno-Hatta

- detikNews
Minggu, 03 Feb 2008 14:24 WIB
Jakarta - Sekitar 50 orang yang mengaku sebagai korban Soeharto dan tergabung dalam Kesatuan Rakyat Adili Soeharto (Keras) menggelar demonstrasi di Tugu Proklamasi, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Minggu (3/2/2008).

Mereka memprotes kejahatan Soeharto selama berkuasa. Mereka mendesak agar kejahatan pendiri Orba itu diadili.

Mereka membuat kuburan dari kayu papan yang dicat putih bertuliskan nama-nama korban kejahatan. Mereka menaburi kuburan itu dengan bunga. Kuburan itu tepat di bawah patung Proklamator Soekarno-Hatta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut salah satu korban, Lestari (76), sampai saat ini dia tidak dapat menghilankan rasa sakit hatinya pada Soeharto karena 2 kakak dan 2 anaknya hilang akibat kekejaman Soeharto pasca G 30 S.

"Sampai kapan pun kalau belum ada pengadilan terhadap Soeharto dan kroni-kroninya saya tidak akan pernah ikhlas,  saya masih sakit. Dua mbakyu saya hilang entah ke mana sampai sekarang. Anak saya juga begitu, meskipun saya dengan takdir Tuhan bisa bertemu pada tahun 2005," ujar eks aktivis Gerwani ini dengan suara menggelegar.
 
Lestari enggan menyebutkan nama anaknya yang telah ditemukannya. "Saya nggak ngomong siapa dia, biar dia nggak repot karena dia harus menghidupi anak dan istri," katanya.

Lestari sekarang tinggal di panti jompo Jl Kramat Raya, Jakarta. Dia meminta Presiden SBY tetap meneruskan mengadili kejahatan Soeharto dan kroni-kroninya terkait kasus G 30 dst karena tanpa itu takkan pernah ada lagi keadilan bagi rakyat kecil.

"Kalau SBY ingin dicintai, harus berani menegakkan hukum. Siapa pun dia, tidak peduli Soeharto," ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan John Pakasi, mantan camat di Manado, korban insiden tahun 1965. Menurutnya, Soeharto ada di balik geger 1965. "Saya memiliki bukti, saya siap didatangkan di pengadilan," kata pria sepuh ini dengan berapi-api.

Humas Keras, Borang, menyatakan, aksi seperti itu akan terus digelar sampai pemerintah berani menuntaskan pengadilan pada Soeharto dan kroninya.

(nrl/nrl)



Berita Terkait