"Nahdlatul Ulama (NU) bukan partai politik praktis yang bergerak dalam perebutan kekuasaan, tapi adalah organisasi keagamaan yang berpolitik keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan berdasarkan amar ma'ruf nahi munkar," tutur Hasyim dalam pidato sambutannya dalam peringatan Harlah NU ke-82 di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Minggu (3/3/2008).
Dia pun menyatakan bahwa NU akan terus fokus untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. "NU akan terus berkomitmen mewariskan nilai perjuangan Islam yang rahmatan lil alamin. Besarnya massa NU secara pararel bersamaan dengan besarnya peran politik NU," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua kita undang Ibu Megawati Soekarnoputri, Bapak SBY. Itu semua karena mimpi Nahdlatul Ulama untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. Karena yang sulit bukan mengatur rakyat, tetapi mengatur para pemimpin itu sendiri. Dengan bersatunya para pemimpin bangsa itu akan memudahkan bangsa ini untuk keluar dari persoalan yang dihadapi," jelasnya yang kemudian disambut tepuk tangan.
Mantan Cawapres Megawati ini menjelaskan harlah juga serentak dilakukan di seluruh Indonesia, karena itu nanti akan diadakan teleconference dengan DPW Lampung, Batam, dan Lamongan, Jawa Timur.
Selain itu menurutnya di era reformasi sekarang ini terjadi keterbukaan sehingga tidak ada lagi batas negara yang memisahkan Indonesia dengan pengaruh global.
"Karena itu NU ingin memperkuat harkat dan martabat bangsa menghadapi tantangan ini dengan menempatkan ulama dan pesantren mnenjadi modal utama untuk bergandengan dengan elemen bangsa lainnya secara visioner," tandasnya. (ndr/nrl)











































