"Dari sejak awal menerima surat dari BIN yang ditandatangani As'ad agar menempatkan Polly sebagai staf perbantuan di corporate security adalah awal malapetaka saya," ujar Indra.
Hal itu disampaikan dia dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Gadjah Mada, Jakarta, Jumat (1/2/2008).
Surat dari BIN itu, lanjut dia, pasti akan disambut baik. Indra mengira, ada operasi intelijen, baik untuk kepentingan Garuda maupun negara.
"Surat jelas dari BIN, apa harus saya perkirakan untuk pembunuhan? Kalau dari orang tidak jelas mungkin saya berpikir begitu," sambung pria yang sudah 27 tahun bekerja di Garuda ini.
"Kalau saya tahu surat dari BIN ini untuk membunuh, pasti tidak saya respons. Buat apa takut kehilangan jabatan daripada membantu melakukan pembunuhan," tutur Indra.
Disampaikan mantan Dirut PT Garuda Indonesia itu, dalam sidang tidak ada fakta yang menyatakan sengaja memberi sarana untuk pembunuhan berencana.
Menurutnya, tindak lanjut surat dari BIN dengan menerbitkan surat tugas kepada Polly juga tidak melanggar aturan. Penerbitan surat tugas pada penerbang agar menjadi staf di corporate security juga dilakukan Dirut Garuda sebelumnya pada 1980-an.
"Yang saya lakukan adalah untuk melayani permintaan BIN, bukan permintaan Polly," tambah Indra.
Dengan balutan kemeja batik ungu, Indra merasa sangat tertekan. Dia mengaku sama sekali tidak pernah berencana atapun membantu pembunuhan.
"Pembunuhan memang kejam, tetapi fitnah lebih kejam," ujar Indra dengan mengulang kalimat itu sebanyak 3 kali.
"Ini bukan permainan kata-kata, tetapi untuk menyampaikan kebenaran dan kejujuran. Ini juga bentuk pertanggungjawaban saya kepada Allah," lanjut dia.
Indra lantas mengangkat Al Quran dengan tangan kanannya dan memanjatkan doa.
"Jangankan membunuh, berencana pun tidak, membantu pun tidak, mendengar atau membantu untuk berencana pun tidak. Kalau ternyata benar membantu, beri azab-Mu yang sangat pedih Ya Allah," pintanya. (nvt/sss)











































