Namun, pada Jumat (1/2/2008) itu, Tia bukan hendak berangkat ke sekolah. Bersama ibu dan ayahnya, keluarga yang tinggal di Kampung Pulo, Jakarta Timur, itu berjalan kaki ke persimpangan besar Cawang.
Mereka akan menawarkan jasa "ojek payung" bagi orang-orang yang terjebak hujan di kawasan itu. Hujan yang turun sejak malam rupanya memberi berkah bagi mereka.
"Aku baru sekolah nanti siang, jadi mau diajak Ibu," ujar Tia yang merupakan murid kelas 2 SD Kampung Pulo 10 Petang itu kepada detikcom.
Sesampainya di tujuan, Tia lantas berpisah dengan orang tuanya. Gadis bertubuh mungil itu berlarian ke sana-kemari mencari penyewa payung.
Untuk sekali jalan, Tia memungut ongkos Rp 2.000 hingga Rp 3.000.Hingga pukul 10.00 WIB, kantong baju Tia yang basah kuyup itu sudah terisi Rp. 27.000.
"Nanti uangnya dikasihkan kepada ibu," ujar Tia.
Tia memang hanya membawa satu payung, sehingga saat payungnya di sewa, ia harus rela kehujanan. Kadang-kadang saja ada yang berbaik hati mengajaknya berlindung di bawah payung.
Di kawasan Cawang yang padat kendaraan itu, terdapat puluhan orang yang berprofesi sebagai tukang ojek payung. Separuhnya, adalah anak-anak seusia Tia.
Sambil berbasah-basah ria, mereka bersaing untuk mengais rejeki untuk membantu ekonomi keluarga.
Seolah tidak ada rasa takut pada diri mereka bila tertabrak kendaraan yang ramai melintas. Atau bila badan sakit akibat kehujanan.
"Habis ini pulang, terus mandi dan berangkat ke Sekolah," pungkas Tia. (irw/nrl)











































