Wajar PKS Tinggalkan Demokrat

Wajar PKS Tinggalkan Demokrat

- detikNews
Jumat, 01 Feb 2008 11:45 WIB
Jakarta - Dalam politik ada istilah tidak ada pertemanan yang abadi. Maka wajar saja, jika PKS mencoba merapatkan diri ke PDIP menjelang Pilpres 2009 dan meninggalkan Partai Demokrat.

Pada Pilpres 2004, PKS berdiri di belakang Partai Demokrat yang mengusung SBY sebagai Presiden.

"Istilah itu sudah terkenal dalam politik, tidak ada pertemanan yang abadi. Semuanya sangat ditentukan situasi politik atau momen-momen politik. Maka mendekati Pemilu 2009, semua parpol melakukan reposisi," tutur pengamat politik dan kebijakan publik Andrinov Chaniago kepada detikcom, Jumat (1/2/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya kini bukan lagi menjaga dan memanfaatkan pertemanan, lewat hubungan koalisi, parpol-parpol berpikir bagaimana caranya mendapat dukungan massa yang besar.

"Jadi semua parpol pasti akan melakukan reposisi, seperti PAN, Golkar, PPP yang sudah mulai kelihatan, tidak terkecuali PKS. Itu sudah menjadi hukum dalam politik praktis, semua parpol dalam situasi yang plural seperti di Indonesia akan menampakkan perilaku seperti itu," beber Andrinov.

Langkah PKS melakukan pendekatan ke partai besar seperti PDIP, imbuhnya, menunjukkan perkembangan baik dalam peta politik Indonesia. Sebab parpol-parpol yang bersifat ekslusif, seperti PKS, tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk.

"PKB saja jauh-jauh hari sudah melakukan perubahan dengan menjaring kader lebih luas lagi, kini tidak hanya NU, tapi ada juga kadernya yang dari Muhammadiyah dan non muslim," ujarnya.

Jika mempertahankan sikap ekslusivismenya, imbuh Andrinov, PKS akan ketinggalan. "Kita harus ambil hikmahnya, mungkin pikiran orang-orang PKS sudah mulai terbuka, bahwa kalau partai mau hidup di Indonesia harus tinggalkan fanatisme publik untuk saling mengerti kepentingan bersama," katanya.

Andrinov lalu mencontohkan PDIP. Partai yang terkenal sebagai partai nasionalis itu kini mulai menjaring massa lewat Baitul Muslimin yang didirikan beberapa waktu lalu.

Sinyal yang dilancarkan PKS, kata dia, setidaknya membuka peluang untuk menjajaki meski belum tentu menghasilkan koalisi.

"Segala pintu harus dibuka, kan berisiko kalau hanya 1 atau 2 pintu saja yang dibuka. Sebab belum tentu partai yang lain konsisten. Jadi jangan sampai terjebak karena kondisinya sekarang masih cair. Pertengahan tahun baru akan kelihatan," katanya.
(umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads