Jika koalisi PKS dan PDIP benar-benar terjadi, pertarungan Mega dan SBY diduga bakal makin sengit.
"Sebetulnya koalisi yang mendukung SBY sudah berantakan dari kemarin-kemarin. Tahun-tahun menjelang Pilpres 2009 ini makin terlihat," kata Guru Besar Ilmu Politik UI Prof Maswadi Rauf saat dihubungi detikcom, Jumat (1/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam hal koalisi tidak ada perbedaannya, karena idelologinya sama. Kalau PKS ingin bergabung dengan PDIP, itu bagus. Karena kita ingin pemilu setidaknya diikuti dua parpol hasil koalisi yang sama-sama kuat, sehingga pemilu bisa digelar satu putaran saja," tutur Maswadi.
Dia yakin meski berbeda aliran, PKS dan PDIP akan sama-sama menangguk keuntungan. Sebab koalisi ini akan ditindaklanjuti dengan pemilihan presiden. Namun, imbuh Maswadi, sebaiknya koliasi tidak hanya sebatas PDIP dan PKS saja. PDIP harus merangkul partai lain sehingga koalisi yang dibentuk semakin tangguh.
"Jadi semakin kuat koalisi semakin besar kemungkinannya menang dalam pilpres. Kalau partai berkoalisi mendukung satu capres tentu kan makin solid," ujarnya.
Koalisi 2 parpol, imbuhnya, belum begitu kuat mengingat di Indonesia ada 6 parpol yang cukup besar. Sedikitnya koalisi harus melibatkan tiga parpol. "Kalau PKS dan PDIP, kekuatannya baru 1/3 saja," katanya.
Meski sinyal PKS merapat ke PDIP tampak jelas menjelang Mukernas PKS di Bali, Maswadi belum berani berspekulasi banyak soal kekuatan koalisi kedua parpol ini.
"Proses pembentukan koalisinya kan masih dicari, masih cair. Masih sulit melihatnya, kita harus lihat perkembangan-perkembangan selanjutnya. Kan ada PAN yang juga mengusung Sultan Hamengkubuwono X. Kita lihat nanti, saya rasa tahun ini akan mengkristal," katanya. (umi/nrl)











































