"Saya kira yang lebih tepat bukan poco-poco, tapi kurang cekatan. Dalam menangani problem selau berputar-putar, banyak analisis, tidak taktis, tidak praktis," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto saat dihubungi detikcom Jumat (1/2/2008).
Dia mencontohkan, lambannya SBY dalam memutuskan suatu masalah ketika terjadi lonjakan harga kedelai yang menimbulkan protes pengrajin tempe. SBY sampai mengumpulkan menteri-menterinya untuk rapat dari pagi sampai malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, kritik Megawati dilakukan untuk mendelegitimasi pemerintahan SBY. Isu itu digembor-gemborkan karena Mega melihat kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan SBY-JK.
"Secara psikologis, Mega menangkap kekecawaan kepada figur SBY di daerah-daerah. Mega menangkap kekecewaan itu dan langsung menggulirkan isu delegitimasi SBY. Ini untuk kemenangan 2009," pungkasnya.
Sebelumnya, dalam puncak peringatan HUT PDIP ke 35 di Palembang, Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut pemerintahan SBY seperti sedang menari Poco-poco.
"Pemerintahan saat ini, saya melihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Tidak pernah beranjak dari tempatnya. Bergoyang hanya untuk menghibur orang lain," cetus Mega.
Kritikan itu dibalas sindiran sinis Partai Demokrat yang menyerang balik Mega. Putri Bung Karno itu ketika menjadi Presiden justru disebut menari undur-undur.
"Masih lumayan poco-poco ada majunya, dari pada tari undur-undur, mundur terus," sindir Sekretaris FPD Sutan Bathoegana.
(Ari/bal)











































