"Kasus penembakan harimau Sumatera ini kami terima dari warga setempat bernama Mukhtar. Dua orang staf kita langsung turun melihat kejadian tersebut dan ternyata benar adanya. Kami sangat menyangkan tindakan anggota Kodim Dumai itu," kata Ketua Yayasan Program Koservasi Harimau Sumatera (PKHS), Bastoni, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (31/1/2008).
Kisah tragis harimau Sumatera ini berawal seorang warga yang memasang jerat tali sling untuk babi hutan. Jerat ini sengaja dipasang atas permintaan warga Desa Tenggayun untuk menjerat babi hutan agar tidak lagi merusak tanaman kebun singkong mereka.
Rupanya bukan babi yang didapat, melainkan harimau Sumatera. Pemasangan jerat pada Minggu (27/1/2008) itu berada pada titik waypoint N 01'31'51.1 dan E 101'55.56.0 yang letaknya di pinggir hutan belukar, jarak dari jalan poros sekitar 400 meter ke arah laut.
Menurut Bastoni, 2 stafnya yang diutus menjenguk, mencoba mengorek informasi dari warga bernama Sofyan. Sofyan menjelaskan secara rinci soal pembunuhan itu. Begitu harimau terjerat, warga pun melapor ke anggota Kodim. "Setelah dilaporkan, akhirnya anggota Kodim Dumai bernama Nazaruddin datang ke lokasi," kata Sofyan seperti dituturkan Bastoni.
Personel TNI AD ini bukannya berniat menyelamatkan spesies yang dilindungi itu, malah meminta senjata rakitan milik warga desa. Senjata laras panjang untuk memburu babi ini diarahkan personel TNI AD ini ke harimau yang terjerat tak berdaya itu. Dor dor dor….9 timah panas menembus kepala harimau dari jarak tembak hanya 6 meter. Seketika itu juga raja hutan tewas.
Setelah sukses menembak hewan loreng itu, Nazaruddin memerintahkan warga mengulitinya. Setelah dikuliti, daging harimau ini dibagikan kepada warga pemasang jerat yang belakangan diketahui bernama Muari. Sedangkan kulit harimau dibawa anggota Kodim ke Dumai yang berkemungkinkan untuk dijadikan hiasan.
Masih menurut Bastoni, dalam kasus ini pihaknya sudah melakukan tindakan persuasif dengan cara menghubungi HP anggota Kodim tersebut. "Saya sudah mencoba menelepon oknum tersebut. Waktu itu dia sempat menerima telepon saya. Namun begitu saya menyebut dari LSM bidang harimau sumatera, lantas HP-nya dia matikan," kata Bastoni.
Bila dalam sepekan ini oknum anggota Kodim tidak menunjukkan itikat baiknya untuk menjelaskan kasus penembakan harimau itu, Bastoni akan menyelesaikan masalah ini antara dengan pihak TNI. "Kalau memang secara persuasip tidak digubris, kita akan membawa masalah ini antar lembaga," kata Bastoni.
Konflik Harimau VS Manusia
Catatan PKHS, konflik antara harimau Sumatera dengan masyarakat kerap kali terjadi di Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai. Hal itu terjadi karena habitat harimau menyempit menyusul pembukaan lahan dan perusahaan bubur kertas skala nasional.
Akibat konflik yang terus terjadi dalam kurun waktu 10 tahun tahun terakhir ini, baik manusia dan harimau sama-sama menjadi korbannnya. Misalkan Asim (60), saat bekerja menderas getah karet tewas diterkam harimau. Maknur (50) tewas dimakan harimau, yang tersisa hanya tulang belulang. Lisa (17), pekerjaan penderes getah, tewas dimakan harimau.
Konflik ini juga membawa korban harimau Sumatera. Di Desa Tenggayun sudah 2 ekor harimau yang mati dibunuh warga. Pertama harimau mati kena jerat warga pada tahun 2000, setelah memangsa 3 orang manusia. Selanjutnya, harimau mati kena jerat dan dibunuh dengan cara ditembak pada tahun 2008.
(cha/nrl)











































