Aksi tersebut digelar sejak pukul 10.00 WIB, Kamis (31/1/2008) di bundaran kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta.
Massa pendemo merupakan gabungan dari berbagai elemen seperti Liga Mahasiswa Nasional Demokrat (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogjakarta, Serikat Pekerja (SP) Kinasih, Forum LSM DIY serta korban penggusuran Parangtritis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koordinator aksi Tini Dawu dalam orasinya mengatakan, kenaikan harga sembako seperti minyak goreng, beras, gandum, kedelai dalam beberapa bulan terakhir ini mengakibatkan rakyat miskin bertambah sengsara. Upah atau penghasilan yang diterima sudah tak mencukupi lagi untuk menghidupi keluarga.
Sementara itu pemerintah lebih suka mengimpor semua bahan pokok
seperti beras dengan alasan sudah tidak mencukupi lagi.
Sedangkan para pengusaha juga lebih senang mengekspor crude palm oil (CPO) dengan alasan harga di luar tinggi. Akibatnya harga minyak goreng naik dan rakyat tidak bisa membeli lagi.
"Beras murah untuk rakyat miskin tak pernah kami terima. Impor terus dibuka sehingga yang jadi korban adalah rakyat miskin," teriak Dini.
Mereka juga mengingatkan pemerintahan saat ini telah gagal menekan dan mengatasi kenaikan harga sembako seperti beras, minyak goreng dan terigu.
Usai berorasi massa kemudian melanjutkan long march menuju Gedung Agung di Jl Ahmad Yani dengan rute Jalan Cik Ditiro, simpang empat Gramedia, Tugu Yogyakarta, gedung DPRD DIY, dan kantor Gubernur DIY di Kepatihan Jalan Malioboro. Aksi itu tidak mendapat pengawalan ketat petugas. Hanya satu buah mobil patroli polisi yang mengawal pendemo yang long march.
(bgs/umi)











































