Peristiwa itu terjadi lebih 40 tahun silam. Saat itu Pak Harto yang menjabat Pangkostrad sedang sibuk-sibuknya menumpas G30S.
Racun tikus itu dibawa seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mengaku kerabat Pak Harto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pak Harto menuangkannya dalam Bab 97 tentang "Ulang Tahun Pernikahan Kami yang ke-40". Berikut kutipannya:
Ulang tahun pernikahan kami yang ke-40 kami rayakan dengan acara yang agak lain. Anak-anak kami yang menetapkan acaranya.
Suasana saat itu santai, penuh tawa riang. Maklumlah, anak cucu saya semua kumpul.
Pada tanggal 26 Desember 1987 itu, pagi hari saya meletakkan batu pertama pembangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi yang akan dibangun di Kelurahan Pinangranti, Jakarta Timur, persis di samping kiri pintu masuk Taman Mini (TMII). Tanahnya seluas hampir 20 Ha.
Di Museum Purna Bhakti Pertiwi ini nanti akan disimpan benda-benda yang ada hubungannya dengan pengabdian saya dan keluarga pada Negara dan Bangsa. Menurut rencana, pembangunan itu akan selesai pada tahun 1990.
Sebagian besar dari ide pembangunan museum ini berasal dari istri saya, sebagai ungkapan rasa syukuran kami sekeluarga kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberkati perjuangan dan pengabdian kami.
Semula peletakan batu pertama museum keluarga ini akan kami langsungkan pertengahan tahun 1987. Tetapi karena sesuatu hal kami undurkan. Tutut, anak saya yang tertua mengusulkan agar acara ini dilaksanakan pada peringatan ulang tahun pernikahan kami yang keempat puluh.
Lalu siang harinya selamatan itu dilangsungkan di Sasana Adiguna, di TMII itu. Suasana waktu itu benar-benar santai.
Titik Puspa hadir, diajak oleh Tutut, untuk meramaikan. Ia mengajukan pada saya sejumlah kuis keluarga yang menyebabkan tambah gembira. Pertanyaan pada saya diajukan, siapa yang membantu keluarga Soeharto pada masa penumpasan G30S/PKI. Saya ingat-ingat. Maka saya menjawabnya.
Saya katakan, waktu itu saya sibuk menghadapi peristiwa pengkhianatan PKI. Ke rumah kami datang tamu perempuan yang mengaku keluarga. Istri saya curiga. Lalu tamu perempuan itu ditahan oleh Lettu Wahyudi. Tapi malamnya perempuan itu kabur dan meninggalkan kopornya yang ternyata berisi racun tikus. Rupanya tamu wanita yang tidak kami undang itu bermaksud meracuni kami sekeluarga. Maka Lettu Wahyudi itulah orangnya yang saya anggap membantu kami sekeluarga pada masa penumpasan G30S/PKI.
Anak-anak dan cucu-cucu kumpul. Lalu kami makan bersama hadirin lainnya. Dan acara ditutup dengan pementasan "Losmen" sandiwara yang secara teratur ditayangkan di layar TVRI, dan disukai banyak orang.
Suasana seperti itu menarik saya mengenang apa yang telah terjadi dengan kami sekeluarga, dengan saya, dengan istri saya, dengan anak-anak dan cucu-cucu saya. (halaman 531-532).
(umi/sss)











































