Pahlawan bagi bangsa ini, memang belum jelas kriterianya. Jika sejarawan Perancis menyebut sejarah ditulis dengan muatan tiga tujuan agar bisa disebut sejarah, maka dalam konteks 'pahlawan', terminologi itu kurang mengena. Bukan masa depan, tapi terasa sangat kontras dipersandingkan dengan kenyataan masa silam.
Sejarah negeri ini dibangun dengan pondasi mitos dan dongeng. Malah dengan tegas CC Berg menyebut, bahwa penulisan sejarah (Jawa) bukan tulisan sejarah, tapi masuk sastra puja. Sastra pujian dan pengkultusan untuk kebesaran raja, agar energi metafisis sang penguasa terbangkitkan. Jika kenyataan klasik sampai kontemporer tetap seperti itu, maka sebenarnya, dari dulu sampai sekarang, kita memang masih laten hidup di jaman batu.
Sejarah mitos itu mulai kita lihat melalui satu nama monumental yang telah menyatu dengan heroisme bangsa ini, yaitu Hang Tuah. Tokoh kelautan itu seakan-akan ada. Sosoknya berdampingan indah dengan Hang Jebat dan Hang Lekir, padahal setelah dilakukan serangkaian penelitian, ternyata Hang Tuah hanyalah 'manusia dongeng'. Dia fiktif adanya. Dia punya nama tapi tak pernah punya raga apalagi jiwa.
Sebut lagi nama yang sangat dikenal bangsa ini, yaitu Gajah Mada. Patih Majapahit yang memberi arahan nasionalisme dengan Sumpah Palapa. Figur ini jatidirinya tidak diketahui pasti. 'Alamat tinggalnya' masuk daftar sejarah didasarkan atas penemuan topeng di Trowulan yang bermotif Bali, yang dipertanyaan sejarawan Belanda. Tapi ketika Mohammad Yamin 'memvonisnya' dari Bali, jadilah Gajah Mada pahlawan kelahiran Bali. Situs dan artefak yang ada di Desa Modo 'tak disentuh', jangan lagi meneliti ritus di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berkaitan dengan itu.
Dan yang paling lucu lagi adalah pahlawan nasional kita yang datang dari Ambon. Pattimura punya dua nama, Juga Christina Martha Tiahohu. Bagi warga yang Islam menyebut pahlawan laki-laki asal Saparua itu adalah Pattimura, sedang saudara kita yang Nasrani menyebutnya Thomas Matulessi. Itu juga berlaku bagi Christina Martha Tiahohu bagi Nasrani, dan Siti Maryam bagi warga yang Islam dalam pemanggilan pahlawan wanita yang kelahiran Pulau Ina itu.
Ini masih soal nama dan biografi dari sang tokoh. Sebuah persoalan simple. Belum lagi menyentuh esensi, mengapa mereka dipahlawankan. Alasan apa yang menjadikan mereka dipahlawankan. Dan sejauhmana 'pahlawan' itu memberi keteladanan untuk memotivasi bangsa ini ke depan.
Padahal jika kita merujuk 'etika budaya', nama diajukan sebagai sosok 'pahlawan' harus melalui saringan yang disebut sejarah. Sedang sejarah bisa disebut sejarah, jika didapat bukti konkrit, artefak atau prasasti. Lah kalau sekarang kita sudah terlanjur 'menciptakan' pahlawan yang tak jelas asal-usulnya, mengambil tokoh-tokoh dari negeri dongeng, menjual artefak dan prasasti tanpa perlu diteliti, maka rasanya sulit untuk menentukan sikap Pak Harto itu layak pahlawan atau tidak.
Kita memang baru belajar sejarah. Kita juga terlanjur terbiasa merekayasa sejarah. Para penguasa juga gemar menciptakan sejarah 'kebohongan'. Jadi masuk akal kalau siapa saja bisa dipahlawankan. Toh hakekatnya masing-masing memang pahlawan bagi keluarga masing-masing.
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (djo/iy)











































