Dari Daendels Hingga Kirmanto

Perjuangan Santri Babakan Ciwaringin:

Dari Daendels Hingga Kirmanto

- detikNews
Selasa, 29 Jan 2008 13:34 WIB
Cirebon - Ribuan kiai dan santri Ponpes Babakan Ciwaringin terus berjuang agar ponpes mereka tidak dipapras proyek jalan tol Cikampek-Palimanan (Cikapa). Aneka perjuangan dilakukan, termasuk dengan menutup akses jalan Bandung-Cirebon maupun tol Palikanci, Selasa (29/1/2008).

Ponpes Babakan Ciwaringin sendiri menyimpan histori tersendiri. Ponpes ini merupakan salah satu ponpes tertua di Pulau Jawa, yang didirikan pada 1715 M/1127 H oleh seorang ulama besar, KH Hasanudin, atau yang juga dikenal dengan nama Ki Jatira.

Pada 1816, Gubernur Jenderal Daendels pernah berencana menggusur ponpes tersebut untuk pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Namun, para ulama setempat menolak sehingga menyebabkan pecahnya perang Kedongdong. Sengitnya perlawanan dari para ulama, membuat Daendels membatalkan rencana itu. Namun ternyata, setelah Indonesia merdeka, hal itu justru
kembali terulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 1996, pemerintah pusat mengeluarkan trase pembangunan jalan tol Cikapa yang membelah dan menggusur sebagian kompleks Ponpes Babakan Ciwaringin. Setelah mendapat penolakan, trase itu dibatalkan dan dibuat kembali trase terbaru pada 2006, yang menyatakan jalan tol akan dipindah sejauh kurang lebih 700 meter sebelah utara kompleks Ponpes Babakan Ciwaringin.

Namun ternyata, pada awal Agustus 2007, aparat Desa Babakan menerima informasi bahwa rencana pembangunan jalan tol Cikampek-Palimanan akan dikembalikan ke trase semula sebelum Juli 1996. Dengan demikian, penggusuran itu jadi dilakukan. Hal tersebut pun kembali menimbulkan gelombang penolakan dari berbagai pihak.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Menteri PU Djoko Kirmanto pernah melakukan dialog dengan sejumlah perwakilan daerah yang wilayahnya dilewati pembangunan Tol Cikapa di Cirebon. Dalam dialog itu, menteri menyatakan pemindahan jalur Tol Cikapa dari lingkungan Ponpes Babakan Ciwaringin, sulit dilakukan.

Djoko beralasan, rencana pembangunan jalan tol itu telah melalui tahap studi kelayakan dan dibutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, imbuh dia, pemindahan jalur pun akan berdampak terhadap puluhan kilometer jalur di daerah lain.

(ern/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads