Penjaga Astana Giribangun pun membatasi peziarah untuk berdoa di depan Cungkup Argosari, tempat pusara Pak Harto.
"Ya, kalau bisa secukupnya saja. Kalau berjam-jam ya, mengganggu," ujar Kepala Pelaksana Harian Astana Giribangun, Sukirno, di Kompleks Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (29/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti di dalam berdoa secukupnya saja. Jangan berlama-lama karena banyak yang mengantre," ujar petugas yang berdiri di pintu masuk Cungkup Argosari.
Seorang petugas Astana Giribangung, Ahmad Markusni (60) mengatakan, pada saat istri Pak Harto, Ibu Tien meninggal, banyak sekali peziarah yang datang pada hari pertama dan kedua. Para peziarah itu dibatasi berdoa sekitar 3-5 menit.
"Dulu pas Ibut Tien, 3 menit saja kita sudah kewalahan. Karena rombongan peziarah banyak sekali di hari pertama dan kedua dibanding sekarang. Kalau nggak ramai ya, diberi kelonggaran," katanya.
Ahmad mengatakan, jika keluarga Cendana sedang berdoa di Astana Giribangun, para peziarah tidak diperbolehkan masuk ke dalam Kompleks Astana Giribangun. Mereka harus menunggu di pos bawah yang jaraknya kira-kira 30 meter dari kompleks.
"Kalau keluarga sedang di dalam, pengunjung disuruh menunggu di pos. Tetapi ada juga keluarga yang beberapa waktu lalu tidak melarangnya. Mereka berdoa bersama," imbuhnya. (ziz/nrl)










































