Seperti yang diberitakan AFP, Senin (28/1/2008), 7 pria bersenjatakan peluncur roket dan dinamit masuk ke sebuah SD dan menyandera muridnya. Sebelumnya, kelompok militan itu gagal menculik pejabat setempat yang mengakibatkan seorang anggota mereka terbunuh.
"Mereka dilengkapi dengan dinamit, granat, senapan Kalashnikov, dan material peledak. Mereka menyandera 315 anak-anak dan 10 guru," kata seorang negosiator Shah Abdul Aziz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka telah menyerahkan diri pada Jirga (dewan lokal) bersama dengan senjatanya dan membebaskan anak-anak," kata jubir kementerian dalam negeri Pakistan Javed Cheema.
Aziz menceritakan saat negosiasi berlangsung, keadaan anak-anak sangat menyedihkan. Banyak diantara mereka yang menangis kelaparan dan tidak sadarkan diri karena ketakutan.
Penyandera, selama negosiasi, terus meneriakkan ancaman akan meledakkan sanderanya. Akhirnya, Aziz mengalah dengan mengabulkan permintaan mereka untuk kabur ke daerah perbatasan Afghanistan.
"Hidup anak-anak lebih penting sehingga kami memutuskan untuk memberikan jaminan keamanan pada mereka (penyandera). Kami tidak ada piliha lain," ujar Aziz. (gah/ptr)











































