Apakah mereka merasa kehilangan dengan sosok yang telah memimpin Indonesia selama 32 tahun itu? Rupanya tak semua merasa berduka. Kebanyakan, warga hanya tidak ingin ketinggalan momen yang tak terjadi dua kali itu.
Seperti komentar salah seorang pegawai Badan Informasi dan Komunikasi bernama Meiwan ini. Dia mengaku momen-momen ini sayang sekali untuk dilewatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pendapat lain diungkapkan oleh seorang pemilik warung kelontong, Zahro. Baginya, kehilangan Soeharto seperti kehilangan orang tua.
"Yah, ini mah ibaratnya kehilangan seorang bapak. Saya turut berduka cita lah, karena sudah pernah mencicipi masa-masa pimpinan dia," ujar Zahro.
Lain Meiwan, lain juga Yeye. Anggota Komisi A DPRD Kota Bandung itu berpendapat pemberitaan soal Soeharto terlalu berlebihan. "Ah yang ditunjukkan itu yang baik-baiknya saja. Untuk apa saya tonton," ujarnya ketus.
Sementara itu seorang penjaga warung di Jalan Aceh Bandung bernama Tian terpaksa menonton prosesi pemakaman Soeharto karena tidak ada siaran lain. "Saya mah nonton karena tidak ada siaran lain yang menarik. Tentang pemakamannya sendiri saya ga terlalu ngikutin," ujarnya. (twi/ken)











































