Salah satu yang biasa dilakukannya di rumah bercat hijau itu adalah mengumpulkan teman-teman main bolanya sewaktu kecil.
Dia mengaku menikmati kenangan masa kecilnya yang sarat suka dan duka itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalamannya itu dia tuangkan dalam buku "Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya", khususnya di bab 30 yang berjudul "Renungan di Tengah Keluarga". Berikut kutipan halaman 235-237:
Saya punya kesenangan tersendiri mengenang dan bertemu dengan teman-teman semasa remaja. Saya pernah menerima mereka di Jalan Cendana.
Beberapa kali saya pernah pula berziarah ke Wuryantoro sebelum menjadi Presiden. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya sempat lagi pergi ke sana. Lewat camat dan lurah saya pernah meminta agar didatangkan, Karmin dan Warikun, sahabat saya waktu remaja itu, dan Kamsiri, bekas guru mengaji saya waktu itu.
Kepada kedua orang itu saya bertanya, "Tahun berapa kita dulu berpisah?"
Salah satu di antara mereka menjawab, "Mungkin tahun 1940 Pak".
"Saya ingat, waktu itu kita masih sama-sama naik sepeda ke Desa Beji dan Semin," kata Karmin. "Di dekat sekolah, sepeda kita tidak bisa lagi kita naiki, karena kedua desa itu merupakan pegunungan. Sepeda kita titipkan di rumah janda sebelah utara sekolah. Terus kita berdua jalan kaki ke desa itu. Di perempatan desa yang nanjak, Pak Harto berkata, "Kalau pekerjaan begini terus, saya tidak sanggup, berat sekali, saya besok tidak masuk lagi, Min."
Mendengar cerita Karmin begitu langsung saya berkata: "Sudah... sudah..., saya ingat." Dan saya kenang masa remaja itu dengan rasa yang mendalam.
Karmin bercerita lagi, dia pernah mimpi bertemu dengan singa besar. Dan ternyata ia dipanggil oleh Presiden, katanya. Kami tertawa-tawa dalam mengobrol bersama Karmin dan Kamsiri lebih dari satu jam lamanya itu.
Bisa dimengerti, bahwa Kamsiri merasa bangga melihat bekas murid mengajinya menjadi Presiden di negeri ini.
Kamsiri pernah juga bercerita mengenai teman lainnya, Kang Loso, yang jadi buta ketika berjuang dan keadaannya sangat memprihatinkan.
Kang Warikun lain lagi ceritanya. Ia masih ingat, ia selalu mengajak teman-temannya membantu saya mengisi bak air dari sumur. Ceritanya, begini: "Mereka senang main sepakbola, tapi kalau tidak dengan saya kurang senang, merasa gothang (kurang lengkap), lebih-lebih bila pertandingan antardesa. Sedang saya punya pekerjaan, dilatih disiplin oleh ayah saya. Tidak boleh main sore bila bak mandi belum penuh. Maka Warikun dan teman-temannya ini yang membantu. Setelah pekerjaan selesai, baru kami main bola."
Yang saya tangkap dari ucapan mereka juga, adalah bahwa mereka sama sekali tidak kecewa mengenai nasibnya masing-masing. Mereka mengatakan, "Setiap orang memiliki nasibnya sendiri. Kita sebagai manusia kan saderma nglakoni (sekadar menjalani)."
*
Mengenai Istana, saya pikir, Istana Presiden bukan untuk Presiden saja. Gedung itu adalah Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat.
Saya tidak mengadakan perubahan besar di gedung itu. Tetapi memang saya perintahkan untuk mengatur isinya dan iklimnya sedemikian rupa sehingga benar-benar representatif sebagai Istana. Istri saya sangat teliti dalam mengaturnya.
Belakangan ini diadakan acara-acara yang terbuka sifatnya, yang bisa dilihat oleh orang banyak. Dengan begitu dimaksudkan, supaya rakyat merasa dekat.
Pembelian cenderamata untuk keperluan Presiden dibeli oleh Rumah Tangga Kepresidenan yang ditunjang oleh anggaran.
Kalau ada yang kita terima dari negara sahabat, maka saya tetapkan itu menjadi milik negara. Dan semuanya itu diinventarisasikan, dicatat, kecuali yang tidak bisa disimpan, seperti makanan, atau minuman.
Barang-barang berharga, semuanya disimpan di museum khusus di Istana yang jadi tempat menyimpan cenderamata yang kita terima dan menggambarkan keseluruhan dari daerah mana dan negara mana. (umi/sss)











































