"Pak Harto itu father looked, dia sangat kebapakan. Saya tidak pernah melihat dia cemberut apalagi marah saat di istana," kata Rachman mengenang tahun 1968 - 1971 saat-saat dia menjadi pengawal pribadi Soeharto.
Hal itu diceritakan Sadeli di kediamannya, Gang Sekolah RT 01 RW 02, Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/1/2008).
Selain kebapakan, kata Sadeli, Soeharto juga seorang yang penuh ambisi. Hingga akhir hayatnya, menurutnya, Soeharto sudah dapat meraih seluruh obsesinya.
"Saya kira semua obsesinya semua sudah tercapai, menjadi orang nomor satu yang dikenal di dalam maupun luar negeri," katanya.
Bahkan, lanjutnya, keinginan Soeharto untuk dimakamkan di astana Giribangun pun terlaksana. "Pembangunan Giribangun sudah dilaksanakan jauh sebelum kematiannya yaitu pada 1974. Meski saat itu menuai protes, pembangunan tetap dilaksanakan. Ini membuktikan salah satu obsesinya," ungkapnya.
Sadeli juga mengaku punya kenangan manis dengan Soeharto. Suatu hari, saat Rachman tengah duduk di dapur istana tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang.
"Saya kaget karena yang menepuk presiden. Saat itu beliau bertanya kamu lagi apa. Lalu saya jawab, lagi lihat ikan Pak. Dia lalu tersenyum dan meninggalkan saya. Dia tidak menegur atau memarahi saya," ujarnya kembali mengingat persis perbincangan saat itu.
Rachman mengaku saat menjadi pengawal pribadi presiden dia juga memegang dua posisi lain yaitu Kepala Seksi I intelijen dan Kepala Seksi II Operasi. Keduanya dibawah Detasemen pengawal pribadi presiden.
"Saat itu saya merasa beban saya sangat berat, karena memegang dua posisi. Saya harus ikut saat Pak Harto mancing, main golf, bowling hingga meditasi ke Gunung Lawu. Saya juga yang bertanggung jawab untuk mengatur pengawalan bagi anak-anak beliau jika akan sekolah atau keluar rumah," tuturnya.
Karenanya, lanjut Rachman, dirinya sering mengalami sakit. Hingga akhirnya, setelah dua tahun lebih dia menjadi pengawal pribadi Soeharto, Rachman mengundurkan diri. "Saya minta dikembalikan ke Kodam III Siliwangi," tuturnya yang memulai karier militernya dari Kodam III Siliwangi ini.
Ketika disinggung apakah dirinya percaya dengan semua tuduhan dan hujatan terhadap Soeharto, Rachman enggan berkomentar banyak. "Saya bukan di pihak pro dan kontra. Namun sebagai manusia tidak ada yang sempurna," tandasnya. (ern/ken)











































