Saya Perlu Kehangatan Keluarga

Arti Cendana Bagi Pak Harto

Saya Perlu Kehangatan Keluarga

- detikNews
Senin, 28 Jan 2008 14:12 WIB
Jakarta - Rumah di Jalan Cendana No.8 bagi Pak Harto tidak hanya sekedar persinggahan. Di rumah bercat hijau itu, dia mengaku menemukan kehangatan keluarga.

Menjelang Magrib, Pak Harto selalu dikelilingi cucu-cucunya. Ini bukan hal mustahil, sebab tempat tinggal putra-putri penguasa Orba itu memang tidak berjauhan dengan Cendana No.8.

Kalau tidak di sepanjang Jalan Cendana, mereka tinggal di Jalan Yusuf Adiwinata yang letaknya di belakang rumah Pak Harto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arti Cendana dituangkannya dalam buku "Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya", khususnya di bab 30 yang berjudul "Renungan di Tengah Keluarga". Berikut kutipan halaman 231-233:

Bangun pagi antara pukul 04.30 dan pukul 05.00, buat seorang petani dan seorang prajurit adalah hal yang biasa. Begitu juga buat saya, sampai sekarang. Setelah sembahyang Subuh biasaya saya minum kopi dan kemudian membaca koran yang sudah ada di meja.

Saya ikuti semua kejadian yang tertera dalam bacaan itu dan bisa dimaklumi betapa besar perhatian saya pada tulisan mengenai pembangunan kita, mengenai perkembangan hidup di desa. Kabar-kabar mengenai keadaan di kampung-kampung yang jauh menjadi ukuran buat saya, seberapa jauh sudah kita laksanakan pembangunan.

Dari pukul 06.00-08.00 saya menyelesaikan surat-surat dan tanda tangan tak pernah ada yang tersisa, semuanya harus selesai, walaupun tempo-tempo memang banyak sekali. Staf memerlukan kecepatan dan ketepatan menyelesaikan surat-surat itu untuk segera bisa diselesaikan.

Kemudian saya mandi dan terus sarapan bersama istri. Anak-anak sudah sarapan dulu dan bila mau berangkat ke sekolah atau ke mana saja pasti pamit. Ini didikan ibunya untuk mendisiplinkan anak dan memelihara hubungan batin anak dan orangtua.

Rata-rata pukul 08.30 saya sudah harus ada di kantor, di Istana atau sekarang di Bina Graha setelah gedung yang besar di samping Istana itu rampung dibangun di tahun 1970-an.

Pukul 14.30 siang saya biasa pulang ke Jalan Cendana, untuk istirahat sebentar, sembahyang Lohor dan makan siang. Kadang-kadang saya tidur sejenak kalau merasa terlalu lelah, terutama kalau otak terlalu capek. Tetapi sering cukup dengan istirahat saja di kursi, duduk-duduk dan melamun sambil mengisap cerutu, rokok kretek atau klobot.

Saya berpikir, menerawang, menyusuri kejadian-kejadian yang pernah kita alami sejak Republik kita berdiri, sampai terjadinya G.30.S/PKI dan tantangan yang kita hadapi kemudiannya.

Mengapa dapat timbul pemberontakan G.30.S/PKI, mengapa pula selama 20 tahun kemerdekaan banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan lain sebelumnya, mengapa selama ini terjadi rentetan krisis-krisis politik, mengapa sesudah 20 tahun merdeka tingkat kesejahteraan rakyat banyak tidak menunjukkan perbaikan yang berarti? Ini masalah-masalah pokok yang saya renungkan sambil duduk bersandar di kursi.

Saya pikir, persoalan dan usaha memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan tadi pantas menjadi masalah pokok seluruh bangsa, masalah nasional yang utama dan mendesak. Semua pemimpin bangsa patut kita memikirkannya. Negarawan-negarawan kita pantas memikirkannya, mahasiswa, pemuda, dan kaum wanita pantas merenungkannya. Cendekiawan kita, anggota-anggota ABRI patut memikirkannya.

Saya kemudian mendapatkan kesimpulan yang terpokok mengenai ini. Rentetan segala krisis nasional yang telah timbul sebelum 1966 bersumber pada penyimpangan-penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD'45, baik semangat maupun pelaksanaannya. Itulah yang pertama.

Kedua, bahwa segala kemunduran yang kita alami selama ini bersumber pada ditelantarkannya pembangunan ekonomi. Karena itu perjuangan Orde Baru tidaklah bisa lain adalah untuk meluruskan kembali pelaksanaan dan pengamalan Pancasila dan UUD'45 secara murni dan konsekuen.

Orde Baru harus menempatkan pembangunan ekonomi sebagai usaha dan program yang mendapatkan prioritasnya yang pertama. Dan sejalan dengan hasil-hasil pembangunan ekonomi itu harus dikembangkan pembangunan bangsa dalam arti yang luas. Maka dengan kedua sasaran itu saya laksanakan tugas yang dipikulkan MPRS kepada saya.

Saya suka pula olah raga. Saya memerlukan gerak badan. Rata-rata tiga kali dalam seminggu saya main golf.

Menjelang Magrib, setiap hari mesti saya bertemu dengan cucu-cucu. Saya memerlukan kehangatan suasana keluarga setelah ditimbun oleh pekerjaan-pekerjaan berat.

Di hari-hari biasa saya mulai bekerja lagi dari pukul 19.00 sampai larut malam. Saya menerima tamu-tamu yang membawa persoalan-persoalan dinas dan persoalan yang sifatnya keluarga.

(umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads