"Dalam dokumentasi saya, ini adalah pemakaman terbesar. Ini menurut pemantauan saya," ujar Des Alwi yang juga datang ke rumah duka, Jl Cendana No 8, Jakarta, Senin (28/1/2008).
Menurut pria yang selama Pak Harto sakit sering mendampingi keluarga Cendana ini, sebelumnya prosesi pemakaman yang terbesar adalah saat mantan Wapres M Hatta wafat. "Buntutnya di Jl Diponegoro dan kepalanya di Tanah Kusir. Kalau sekarang saja, Pak Harto dikunjungi 47 ribu orang. Saya lihat dari buku tamu," imbuh Des Alwi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Des Alwi juga menyatakan kesedihannya karena tidak bisa ikut mengantar Soeharto ke Solo. Mantan Mensesneg Moerdinono mengatakan kepadanya agar tetap di Jakarta.
"Saya kenal Pak Harto dari tahun 1946, waktu mundur dari Surabaya. Di ASEAN, Pak Harto dianggap hebat sekali. Sekarang penghormatan yang diberikan masyarakat luar biasa," tandasnya. (nvt/nrl)











































