Kesan orang baik atau orang jahat ini, merupakan hak manusia lain yang masih hidup. Kesan ini tentunya memiliki dasarnya, baik berdasarkan moral, politik, maupun ilmu pengetahuan. Kesan ini tidak akan luntur, meskipun sudah ada pernyataan maaf dari manusia lainnya.
Saya memaafkan Soeharto, sebab Tuhan saja dapat memaafkan dosa manusia. Saya memaafkan Soeharto, sebab saya berharap manusia juga memaafkan dosa atau perbuatan jahat yang saya lakukan sebelumnya. Namun, saya tidak dapat mencegah manusia lain menilai atau memberi kesan mengenai sosok saya. Misalnya, saya ini adalah seorang koruptor, kejam, suka berzina, pelit, suka mencuri gagasan orang lain, tukang fitnah, penjilat, pecandu, penipu, atau saya orangnya dermawan, jujur, pejuang, alim, pembela, cerdas, rendah hati, penyayang, serta setia.
Â
Saya percaya, bukan hanya saya, yang telah memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan Soeharto selama hidupnya. Dari sekian ratus juta manusia Indonesia, sekian puluh juta juga telah memaafkan Soeharto. Saya percaya, reproduksi manusia bukan hanya berlangsung pada manusia yang sakit hati dengan Soeharto, juga sebaliknya yakni orang-orang yang hidupnya menjadi kaya, bahagia, terlindungi, terhormat, setelah dibantu Soeharto. Yakni mereka yang dulunya tidak pernah membayangkan memiliki sebuah rumah, mobil, tiba-tiba memiliki banyak rumah dan mobil karena dibantu Soeharto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
*Taufik Wijaya adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(tw/iy)











































