Di kamar 536, Soeharto pernah berbaring selama 24 hari dengan bantuan alat pernafasan (ventilator). Jika sebelumnya ruangan itu dijaga ketat aparat, kini suasana lowong dan lengang terasa saat detikcom berkesempatan melongok pada Minggu (27/1/2008) di RSPP, Jl Kiai Maja, Jakarta Selatan.
Pintu dan gorden kamar itu kini terbuka. Di bagian dalam ruangan berukuran sekitar 5x4 meter itu, sudah tak ada lagi alat-alat kedokteran yang menyangga hidup Soeharto. Seprei yang terpasang di ranjang tampak baru dan rapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang petugas tampak memperbaiki kabel. Yang lainnya tengah mengepel lantai. Ada pula yang mengganti seprei dan mengeluarkan ranjang dari kamar di sebelahnya. Di sanalah anak-anak Soeharto bermalam selama sang ayah dirawat.
Pembantu
Di lantai 5, detikcom menemui seorang pembantu keluarga Cendana bernama Tarmidjan. Pria berusia 75 tahun itu sibuk menurunkan barang-barang milik anak-anak Soeharto.
"Saya sudah ikut Pak Harto sejak 1968. Yang seangkatan dengan saya tinggal 5 orang," kata Tarmidjan yang mengenakan kemeja batik dan peci itu.
Selama Soeharto dirawat di RSPP, Tarmidjan kebagian tugas menyiapkan makanan bagi keluarga Cendana. Tugas 'di belakang' itulah yang membuat Tarmidjan justru terlambat mengetahui kabar wafatnya sang majikan.
"Saya tadi di belakang saja waktu ramai-ramai. Saya tahunya dari TV," ujarnya.
(fiq/sss)











































