Demikian papar Ketum PBNU Hasyim Muzadi usai diterima Presiden SBY di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta Pusat , Jumat (25/1/2008).
"Kalau tidak (konsolidasi), bisa-bisa bupati-nya sudah terpilih, tapi (antar) kiai masih ribut," ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kristalisasi yang terpola itu acap kali menjadi biang konflik antar pendukung peserta pilkada. Masalahnya, sebagian besar kandidat tersebut adalah warga NU dan pendukung mereka yang mendadak terlibat konflik itu juga warga NU.
Keadaan akan semakin memburuk, bila ternyata hasil pilkada sudah sah tetapi kristaliasi antar pendukung belum mencair. Maka benih perbedaan yang semula hanya sebatas soal pilihan, bisa berkembang ke hal-hal lain termasuk soal agama.
"Jadi yang dirugikan warga NU, ini banyak terjadi di daerah. Makanya NU harus dikonsolidasikan. Yaitu bagaimana warga bisa memilih tapi tetap bersatu dalam wawasan keagamaan. Pilihan itu bukan perbedaan, tapi soal alternatif yang tidak ada hubungan dengan keagaaman," papar mantan cawapres 2004 ini.
Agenda utama konsodilasi adalah pengkaderan wawasan keagamaan dalam kehidupan berbangsa. Kemudian penekanan kembali bahwa NU sebagai oraganisai keagamaan netral terhadap semua tarik menarik kepentingan politik. Tapi tidak melarang warganya aktif dalam kegiatan politik.
Pencanangan konsolidasi internal tersebut akan dilaksanakan bertepatan pada puncak peringatan Harlah ke-82 NU yang jatuh 3 Februari 2008. Presiden SBY akan memberikan pidato dalam acara dilangsungkan di Gelora Bung Karno, Jakarta, itu.
"Warga NU yang hadir dari Jakarta dan daerah kiri-kanannya saja, karena pertimbangan biaya dan kemanan perjalanan. Provinsi lain berlangsung di stadion masing-masing secara serentak, dan kita nanti akan terhubung melalui teleconference," sambung Hasyim. (lh/ken)











































