Hal ini ditemukan ketika sebuah penelitian mendapatkan pasangan yang memendam kemarahan memiliki angka kematian dua kali lebih tinggi daripada pasangan yang saling bersikukuh. Setidaknya itu pengamatan yang dilakukan terhadap 192 pasangan di Amerika Serikat selama 17 tahun!
"Ketika pasangan itu bersama, salah satu tugas utama adalah rekonsiliasi konflik," ungkap Guru Besar Emeritus Universitas Michigan, Ernest Harburg, yang merupakan peneliti utama penelitian itu, seperti dikutip dari AFP, Jumat (25/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika tak dipecahkan, jika dipendam kemarahan itu, Anda memikirkannya dan akhirnya membalas pada orang lain, tanpa memecahkannya, Anda berada dalam masalah," lanjutnya.
Penelitian terdahulu menemukan, memendam kemarahan meningkatkan penyakit terkait stres seperti serangan jantung dan darah tinggi. Penelitian itu menunjukkan bagaimana marah yang terpendam dalam perkawinan akan berpengaruh pada usia kematian.
Angka kematian itu meningkat lagi seiring umur, merokok, berat badan, tekanan darah, problem pernafasan, dan risiko kardiovaskular.
Penelitian Harburg ini mengandalkan kuisioner yang dibagikan pada responden penelitian. Kedua belah pasangan pada 26 pasangan terbukti memendam marah, sementara hanya salah satu pasangan dari 166 pasangan yang memendam marah.
Harburg memperingatkan, penelitian ini masih dini sehingga tidak bisa mewakili contoh kasus dari hubungan perkawinan. Para responden adalah pasangan kulit putih dan kelas menengah di Michigan.
Kuisioner pertama diambil pada tahun 1971 dan kemudian terus diikuti sampai sekarang. Harburg menyatakan, analisis yang lebih pas baru selesai pada 30 tahun lagi. (aba/mar)











































