"Sebenarnya evaluasi sudah ada bahwa Nomad N-22, pesawat patroli maritim yang kita miliki saat ini ada 22 pesawat," kata KSAL Laksamana TNI Sumardjono dalam jumpa pers mendampingi Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso usai Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (24/1/2008).
Menurut Sumardjono, dari 22 pesawat Nomad tersebut, 12 pesawat digrounded karena memang tidak laik terbang lagi. Sedangkan, 10 pesawat lagi masih laik terbang. "Kita operasikan lagi sampai 5 tahun ke depan dan akan kita tingkatkan kesiapannya," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, pesawat Nomad P-833 telah dilakukan overhaul pada tahun 1997 dan masih memiliki jam terbang cukup panjang. Mesin kiri baru dioperasikan 545,4 jam terbang dan mesin kanan 364 jam terbang, serta batas akhir penggunaan adalan 1.750 jam terbang.
"Hasil pemeriksaan terakhir kondisi air frame juga membuktikan pesawat ini masih layak terbang hingga 1.204,6 jam terbang lagi," jelas Iskandar.
Iskandar menambahkan, dari bukti pecahan pesawat tidak ditemukan tanda-tanda terbakar. Laporan dari tower Lanud Sabang juga memperkirakan pilot pesawat sedang mengarahkan ke landasan bukan mendarat di laut.
Namun karena hempasan turbulensi udara, sehingga terjadi bodi bawah pesawat pecah sampai menembus lantai dan menyebabkan lantai pesawat melengkung ke atas. Untuk itu Pusat Penerbang AL (Puspenerbal) yang bertanggungjawab atas 22 pesawat Nomad tersebut menyatakan 14 pesawat siap operasional dan 8 pesawat tidak layak operasional.
Guna menjaga pesawat tetap operasional, diambil langkah sistematis. Yaitu penggunaan sayap dalam mendarat maupun tinggal landas semula 38 derajat (full down) mendarat dengan rolling panjang minimum 400 meter. Mengingat flaps (tinggal landas) hanya diizinkan 10 derajat sehingga rolling membutuhkan 700 meter.
(zal/nrl)











































